Apa Sebenaranya Sebab Terjadinya Perpecahan Ummat Islam?

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Kenapa Terjadi Perpecahan Ummat Islam?

Dewasa ini kita dihadapkan dengan perserteruan sesama ummat islam yang tak kunjung berhenti. Sebenarnya kemana sih kembalinya sebab tersebut? Mengapa kok ummat ini gemar sekali berpecah belah?

Jawabannya menurut penulis adalah kepada  2 faktor penting yang saling terkait.

1. Dari Ajarannya: Ajaran yang menyesatkan dan mendoktrinkan perpecahan dan permusuhan. Ini bisa kita teliti dari doktrin basisnya (Indoktrinasi Verbal dan Textual) yang diajarkan. Apakah dia mengajarkan permusuhan, perpecahan, saling menyalahkan?

Bedakan dengan ajaran yang sejatinya moderat, namun ‘terpaksa’ harus bersikap tegas bahkan sering keras karena hasutan ajaran-ajaran yang mengajarkan perpecahan Ummat tersebut.

2. Dari Karakter Orangnya: Biasanya Karakter orang yang keras dan cinta pujian. Mencari pengikut dengan mengajarkan kebencian. Sifat ini bisa ada pada orang yang membawa ajaran yang sejatinya adalah benar, dan akhirnya malah membuat orang lari terbirit-birit darinya, atau malah mendukung sikapnya yang memecah-belah, meskipun dia benar. Ini juga bercabang kepada pembahasan sosiologis dan psikologis dari orang tersebut.

Dua ini harus teliti betul dalam memilahnya, bagi para pencari kebenaran. Syi’ahkah? Sunnikah? Wahabikah? Atheiskah? Ahli kitabkah?

Ketika jiwa sudah bisa mengatagorikan kedua hal ini, insya Allah apapun masalah yang dihadapi akan bisa ditanggulangi. Dan kebenaran selalu tampak jelas ketika sebuah ajaran memang benar, dan emosi tidak diperturutkan.

Sekarang mari kita ambil permisalan kepada ahli kitab. Benar adanya, bahwa yahudi dan nasrani tidak akan pernah Ridha kepada Kaum Muslimin hingga kita mengikuti ajaran mereka. Namun ternyata tidak semua yahudi dan nasrani disifati demikian oleh Allah.

Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 75 yang artinya: “Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”

Juga dalam Surat Al-A’raf ayat 159 yang artinya: “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.

Imam Muhammad Abu Zahrah dalam Zahrah Al-Tafasir mengingatkan kita, bahwasannya Al-Qur’an mengajarkan kita untuk ‘Inshaf’ dan tidak lantas menggeneralisir suatu kaum. Karena disetiap kaum terdapat kebaikan yang mana kebaikan ini juga diakui didalam Al-Qur’an.

Maka jika kepada ahli kitab saja kita tidak diperkenankan untuk menggeneralisir, apalagi kepada sesama ahli kiblat? Nah dari sini saja kita hendak bisa menginsafi, mana ajaran yang menyeru kepada perpecahan (Memerintahkan membid’ahkan tidak pada tempatnya dan masalah khilafiyyah yang sudah  tuntas dibahas sejak beratus tahun lamanya. Atau memerintahkan untuk melaknat dan mencaci para Shahabat Rasulullah saw dan semua ini biasanya berdasarkan emosi), dan mana yang menyeru kepada perdamaian.

Kita juga patut memilah karakter manusianya. Karena tak jarang kebenaran dibawakan dengan cara dan motif yang salah, atau kesalahan dibawakan dengan motif dan cara yang benar.
Tak jarang pula akhirnya banyak yang dibutakan oleh kedua hal ini dan kehilangan ‘Maqashid’ atau Tujuan-tujuan Islam sebagai Rahmat bagi seluruh Alam.

Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali KWH menyebutkan bahwa 2 golongan akan hancur karena dirinya.

Yang pertama : Adalah golongan yang mencintaiku secara berlebihan, sehingga cintanya ini membawanya kepada kebatilan.
Yang kedua: Adalah golongan yang membenciku secara berlebihan. Sehingga kebenciannya ini membawanya kepada kebatilan.

Dan sebaik-baik golongan yang dalam masalahku ini adalah Al-Namtu Al-Awsath atau golongan yang moderat. Maka ikutilah mereka. Dan ikutilah Al-Sawwad Al-A’dzam. Dan jauhilah Al-Furqah atau perpecahan. Karena orang yang terpisah dari manusia adalah kepunyaan setan. Sebagaimana domba yang terpisah adalah untuk srigala! Ketahuilah siapa saja yang mengajarkan Syi’ar ini (Al-furqah) maka perangilah ia! Walaupun orang itu berada dibawah ‘imamahku ini! (Imamah adalah Sorban yang digunakan dikepala, maksudnya adalah mengatasnamakan beliau KWH).

Semoga kita semua bisa membedakan antara ajaran persatuan dan ajaran perpecahan. Dan semoga kita termasuk yang diberikan Petunjuk oleh Allah swt. Dan tidak digolongkan kedalam kaum-kaum yang mencintai perpecahan. Amin.

Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s