Hilangkan Rasa Benci.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Syaikh Muqbil Bin Hadi dalam Muqaddimah Ta’liqnya atas Al-Asma’ Wa Al-Shifat Imam Bayhaqi Rahimahullah menuduh Syaikh Zahid Al-Kautsari rahimahullah Sebagai ‘Pengingkar Hadist Shahih Jika bertentangan dengan Hawa Nafsunya, dan beristidlal dengan Hadist Dha’if jika berkenan dengan keinginannya.” Padahal sebenarnya Imam Bayhaqi Ra sendiri di buku yang dita’liq tersebut menegaskan takwil ayat-ayat dan hadist-hadist shifat dengan menyertakan Syawahid dan Qara’in baik Lughawiy maupun Nashshy sebagai Adilla’. Sedangkan syaikh Muqbil hanya menta’liq seperti ini, “Sungguh Jauh sekali takwil ini dari kebenaran dan nyata kebathilannya.” Tanpa menyertakan argumentasi apapun.

Imam Ibnu Katsir sendiri ;dengan mempertimbangkan bahwasannya beliau murid Syaikhul Islam rahimahumulllah, dalam Qashashul Anbiyaa’, jikapun menyertakan riwayat-riwayat yang sifatnya antrophomorphistik ;terkhusus banyak ditemukan dalam kisah nabi Adam Alayhissalam, beliau tetap menyertakan pendapat Ulama yang memunkarkan beberapa hadist tersebut. Contohnya seperti; “Pilihlah Tangan-Ku wahai Adam.” dan lanjutannya, “Sebenarnya aku ingin memilih yang kanan, namun sepertinya semua adalah kanan.” Maka Allah membuka telapak Tangan-Nya dan terlihatlah seluruh keturunan Adam di telapak itu… Ila Akhir Hadist. Disini Imam Ibnu Katsir tidak lupa menyertakan pendapat Imam Nasa’i yang mengatakan Ini hadist Munkar dalam Al-Sunan Al-Kubra, dan tidak memberikan tuduhan-tuduhan apapun atasnya. Inilah sebenarnya adab dalam menulis serta menukil.

Membaca hadist-hadist Qashashul Anbiyaa’ terutama pada bagian Penciptaan Nabi Adam memang banyak sekali hadist-hadist yang sifatnya antrophomorphistik. Maka sebelum membacanya meminta perlindungan kepada Allah swt, karena alam bawah sadar kita sering terseret tanpa disadari sehingga kita ‘ikut-ikutan’ mentajsim. Dan hendaknya disertai husnudzan bahwa Allah swt memiliki sifat salbiyyah Mukhalafah Lil Hawadist, serta mengikuti aliran salaf ahlussunnah wal jama’ah yang mentafwidh ataupun mentakwil.

Namun demikian, sungguh benar bahwa perdebatan dapat mematikan hati kecuali bagi orang-orang tertentu yang benar-benar diberi petunjuk oleh Allah. Sedangkan memang mencari ‘selamat’ juga tidak disalahkan. Imam Syafi’i rahimahullah melarang berdebat dengan orang bodoh, jika dilihat dari perspektif lain, bahwa sebenarnya bukan karena kita itu pintar dan orang lain bodoh, namun bahwa belajar adalah lebih Utama dari berdebat. Sungguhpun perdebatan adalah sunnatullah, namun nampaknya fikih perbedaan adalah sebuah urgensi untuk diketengahkan dalam masyarakat Islam saat ini, sehingga Ilmiyyah lebih dikedepankan daripada Ammarah. Ukhuwwah lebih didahulukan daripada Baghadhah.

أن الله يصلح بين عباده المسلمين يوم القيامة

“Sesungguhnya Allah mendamaikan antara Hamba-Hamba-Nya dari Orang-orang Islam (Ahlu Al-Syahadat) pada hari Qiyamat.”

Mari sama-sama hilangkan rasa benci karena perbedaan.

Hadanallahu Wa Iyyakum Ajma’in.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s