Sistem Pemerintahan Dan Keuangan Pada Masa Umar Bin Khattab Ra; Ruh Syariat dalam sebuah pemerintahan. (Part Two)

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Setelah diletakkannya dasar-dasar ini, maka kemudian timbullah kendala baru yaitu: Bagaimana mengatur dan membagi semua orang dan umar seluruhnya sehingga dapat terlibat dalam pemanfaatan harta tersebut, sedang hal ini sangatlah sulit mengingat kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat Islam pada masa itu? Bagaimana Sayyiduna Umar menderivasikan (Membuat cabang) harta-harta tersebut kepada yang berhak?

Disini para ahli arif dan bijak (Ahlul Hilli wa Al-‘Aqdi) memberi petunjuk kepada khalifah untuk meletakkan kantor-kantor untuk orang banyak atau kantor catatan sipil guna mencatat nama-nama orang-orang didalamnya. Perlu juga disebutkan bahwa istilah Al-Sya’ir  juga memiliki salah satu arti ‘perekam’ yang dalam konteks ini adalah pencatat bangsa arab. Para ahli arif nan bijak telah mendapatkan maklumat berharga ini dari pemerintahan negri Kisraa. Maka oleh Sayyiduna Umar didirikanlah Diwan Al-‘Atha’ dimana didalamnya dicatat secara administratif nama-nama yang akan memanfaatkan harta tersebut.

c. Masalah Cara Membagikan Harta Negara Kepada Yang Berhak.

Sekarang marilah kita imajinasikan bagaimana seorang khalifah dan para penolongnya  mampu membatasi nama-nama orang tersebut dalam daftar catatan tadi. Sebelumnya mereka harus mengklasifikasi nama-nama tersebut dalam golongan tertentu, agar mereka dapat  ‘dicacah’ kedalam golongan. Pada masa itu orang-orang dinisbatkan kepada golongan atau sukunya, sehingga tidak mungkin semua orang dibagi kecuali dengan dasar kesukuan tadi. Namun demikian, memang memungkinkan bagi para pemerang agama Islam untuk dibagi berdasarkan kelompok yang diikutinya, namun kelompok itu sendiri didasarkan  pembagian kesukuan. Jadi disini tetaplah pembagian berdasarkan afiliatif kesukuan.

Dengan ini maka berjalanlah pencatatan nama-nama kaum muslimin yang berhak (Mustahiq), semuanya sesuai dalam kabilah dan sukunya. Dapat dilihatnya bahwa pembatasan disini harus mendapat kepastian dan afirmasi dari semua orang didalam kabilahnya, sehingga tidak ada penipuan.

Kondisi masyarakat menetapkan keberadaan seseorang didalam kabilahnya, kemudian datanglah Islam menghapuskan kefanatikan tersebut dan mengikat tali persaudaraan antara semua orang. Sampai datanglah sistem keuangan ini mengembalikan dan memperkokoh tatanan kesukuan, dimana tidak ada jalan lain selain dari itu untuk melakukan pembagian.

Namun demikian Sayyiduna Umar dihadang kembali oleh problem lain, yaitu bagaimana membagi orang-orang  Islam ‘Ajami (Non-Arab). Mengingat mereka tidak semuanya memiliki kabilah seperti bangsa Arab. Dalam hal ini Sayyiduna Umar mengikuti cara yang dikenal pada masa jahiliyyah, bahwa disetiap kabilah ada orang-orang yang berpihak dan loyal kepada kabilah tersebut sehingga mereka menjadi bagian dari kabilah tersebut. Maka jika ada orang non-arab bergabung dengan salah satu suku Arab, maka bagi dirinya adalah bagi sukunya dan apa-apa atas dirinya adalah berlaku juga bagi sukunya, serta namanya tercantum bersama nama-nama anggota kabilah tersebut.

Begitulah apa yang dilakukan Sayyiduna Umar, namun beliau tidak mewajibkan aturan ini, bahkan beliau berpesan, “Jika ada kaum asing yang ingin membuat suku tersendiri maka lakukanlah, maka baginya sebagaimana dirinya menjadi pendukung salah satu kabilah Arab.” Namun banyak penulis sejarah berpendapat bahwa berafiliasi kepada bangsa arab adalah sebuah keuntungan, karena bangsa Arab dikenal loyal terhadap kabilahnya. Sebagaimana diuraikan diatas penulis memandang bahwa ia termasuk kedalam hikmah mengapa Islam diturunkan dan berkembang di Arab dan mengalami perluasan.

Disisi lain kita dapat membandingkan bagaimana bangsa-bangsa penguasa seperti Romawi dan Persia memperlakukan bangsa-bangsa selainnya. Orang asing dianggap sebagai budak, hina, rendah, dan tidak berhak untuk berafiliasi kepada penguasa mereka. Namun semua itu berubah dengan kepemimpinan Sayyiduna Umar dan Para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Bangsa-bangsa asing berhak berafiliasi kepada bangsa penguasanya sebagaimana mereka berhak  berafiliasi kepada bangsa mereka sendiri. Disini penulis juga memandang bahwasannya Sayyiduna Umar berhasil meleburkan apa yang dikenal dalam diskursus ilmu psikologi sebagai Interaksionisme Simbolik, dan memberikan opsi lebur bagi begitu banyak bangsa menjadi satu simbol kesukuan Arab, namun juga tetap menegaskan simbolisme non-arab sehingga mereka dapat bermuamalah secara relevan. Disinilah salah satu rahasia mengapa agama Islam dapat berkembang dengan cepat tanpa paksaan para pemeluknya dan membaur dengan bijaksana bersama beragam budaya dunia.

Dapat disimpulkan, bahwa sistem keuangan ini telah menjadi sistem bagi dunia Islam pada masa aitu, dimana didasarkan atas Qabiliyyah sehingga hal ini berdampak pula kepada sejarah Islam pada umumnya dari dinasti-dinasti yang datang setelahnya, khususnya Dinasti Bani Umayyah.

D. Masalah Tanah Kharraj dan Jizyah.

Selanjutnya pembicaraan beralih kepada tanah Kharraj (Pajak). Tanah yang telah menjadi milik Allah atau milik Ummat ini sengaja dibiarkan ditangan para petani pemilik aslinya, agar mereka mengelolanya dan dapat bekerja melaluinya sehingga dapat membayar pajaknya. Namun disamping pajak jenis ini juga ada pajak lain yang kita kenal dengan Jizyah. Disini kita tidak perlu memperpanjang pembahasan pandangan ulama-ulama terhadap hukum Fiqih Kharraj dan Jizyah, karena pada awalnya Jizyah telah bercampur aduk dengan unsur Kharraj, sehingga kadang Jizyah telah dipakai untuk pembayaran Kharraj dan Kharraj digunakan dalam pengertian Jizyah, sampai kedua istilah ini menemukan jalannya secara stabil dan baku selamanya.

Jizyah (Dibayarkan setiap akhir tahun Qamariyyah) adalah apa-apa yang diambil dari penduduk yang belum memeluk Islam dan  menggunakan tanah Kharraj untuk membayar apa-apa yang dihasilkan dari tanah tersebut. Dan Jizyah adalah pungutan sebagai jaminan perlindungan bagi Non-Muslim dan menjamin keamanan jiwa, harta, serta kehormatan mereka, bagi yang mampu 48 dirham, yang sedang 24 dirham, dan yang faqir 12 dirham. Iapun tidak dipungut melainkan untuk orang dewasa saja, bukan wanita dan anak kecil. Dzimmy yang membayar Jizyah mereka tidak dilibatkan kedalam peperangan, serta diserahkan ke Baitul-Maal untuk dibagikan kepada orang-orang yang terdaftar di dalam administrasi Diwan Al-‘Atha’.

Diserahkan juga ke Baitul-Maal seperlima (Khumus) dari Rikaz yang dihasilkan dari dalam perut bumi yang berupa logam atau harta temuan berharga. Begitu pula kaum Muslimin memberikan sepersepuluh dari hasil tanah pertaniannya (Zira’ah), apabila mereka memiliki tanah dan mewarisinya. Dan diambil dari para pedagang sepersepuluh hasl keuntungannya dan itu semua dihimpun ke dalam Baitul-Maal.

Sedangkan sedekah dan zakat dimasukkan ke Baitul-Maal namun tidak dibagikan kepada golongan ‘Atha’ namun dibagikan untuk para kaum fakir miskin karena hak mereka sangatlah jelas, yaitu sesuatu yang diambil setiap tahunnya dari harta kalangan berada (Aghniya’). Yang mana harta umat itu setiap empatpuluh tahun masuk ketangan kaum fakir untuk dibelanjakan dan dimanfaatkan darinya. Disini kita dapat melihat bahwasannya standar kehidupan dengan sistem ini bagi semua golongan masyarakat sangatlah tertata dan tersusun dengan sedemikian rapinya. Dimana semua hidup didalam standar yang jelas dan tidak berlebihan serta tidak pula jatuh kebawah garis kemiskinan.

Dengan demikian telah berkumpul di dalam Baitul-Maal setumpuk harta yang sangat besar yang diambil dari berbagai pihak yang telah disebutkan satu persatu tadi. Dan harta itu selalu dibagikan sehingga tidak tersisa di Baitul-Maal kecuali sedikit saja yang wajib untuk kebutuhan masa mendatang. Sayyiduna Umar memerintahkan para ‘Amilin untuk membagikan harta-harta tersebut pada waktunya agar tidak menyengsarakan orang-orang akibat keterlambatan pembagian tersebut.

Disini kita dapat melihat bahwasannya Sayyiduna Umar telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam mendata dan mendistribusikan dalam kantor pencatat sipil (Diwan Al-‘Atha’) dan juga sejumlah tanah-tanah kharraj. Yang turut andil dalam hal ini secara aktif adalah Ustman bin Hanif dan Hudzaifah bin Yaman pada sejumlah tanah di negri Irak. Diaman diketahui berapa luasnya kemudian diperjelas pembagiannya. Dan ini salah satu pekerjaan yang sangat sulit dan prestasi membanggakan bagi kedua sahabat ini.

Kesimpulan

Singkatnya, bahwa sistem keuangan pada masa khulafaur Rasyidin adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa unsur sistem sosialis, karena rakyat secara serentak ikut serta dalam memberikan pemasukan (Income) kepada negara untuk diambil dan dibagikan kepada mereka. Juga suatu sistem yang beberapa sisinya mengandung unsur kesukuan, karena pembagiannya yang berdasarkan asas kabilah (Qabiliyyah). Dari sini juga dapat kita tegaskan bahwa kesuksesan Agama Islam sampai saat ini adalah berkah dan wasilah Tuhan melalui Sayyiduna Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, sekaligus membantah klaim syi’ah atas tuduhan-tuduhan mereka terhadap khalifah Umar.

Dari sinilah kita dapat pula menyaksikan kepiawaian sayyiduna Umar bin Khattab dalam berijtihad, dan membuka pintu dzari’at sebagaimana ia dapat dibuka. Beliau juga menetapkan keputusan-keputusan baru dengan berpegang kepada qiyas, serta mewakafkan begitu banyak tanah-tanah Fay’ seperti Irak, Syam, dan Mesir.

Adapun peristiwa Assassination (Ightiyal) Sayyiduna Umar bin Khattab maka para sejarawan berbeda pendapat dalam hal-hal yang kecil saja, namun secara garis besar menunjukkan bahwa pembunuhnya adalah dari golongan orang yang tidak menyukai kemajuan Islam dan Bangsa Arab pada khususnya.

Lantas apa yang dapat disimpulkan dari penjelasan diatas berkenaan dengan pembentukan negara pada zaman Khulafaur Rasyidin?

Dapatlah kita simpulkan bahwasannya negara Islam adalah negara yang berdiri diatas asas musyawarah (Syura) dan dalam keputusan ddan eksekusi hukum diambil oleh sang Khalifah terpilih, serta sumber kehidupan negara adalah mengambil dari rakyat, dan untuk diserahkan pula kepada rakyat. Serta pengelolaan sumber daya negara untuk kemaslahatan Ummat dalam jangka panjang . Ia adalah negara yang berdiri diatas poros hukum agama. Yaitu negara yang condong kepada sistem sosialis dalam menata keuangannya, dan berafiliasi kepada bangsa Arab dalam pendistribusian harta dan militernya.

Disamping itu sebuah negara hendaknya dipimpin oleh seorang saja, dan ditangannya segala kekuasaan, yang mana semuanya berdasarkan Syura dan Bai’at. Disana terdapat kontrak moral antara sang pemimpin, Ahlus syura, dan masyarakat dimana sang pemimpin wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya dan memberikan hak-haknya serta mengayomi, yang mana ia juga berhak mendapatkan ketaatan dan loyalitas penuh dari rakyatnya.

Sebaliknya, rakyat wajib untuk taat secara total dan mereka berhak untuk menuntut hak-hak mereka kepada pemimpin negara, dan dapat menurunkan pemimpinnya dengan jalan musyawarah melalui wakil-wakil mereka yang arif dan bijak (Ahlul Hilli Wal ‘Aqdi) yang tetap berpegang kepada hukum Allah dan merekalah orang-orang terpilih bagi pemimpin dan juga rakyatnya. Proses pemakzulan pemimpin haram dengan cara pemberontakan. Begitupula sebaliknya, status rakyat hendaklah diperjelas apakah rakyat tersebut Bughat (pemberontak atas pemerintahan yang sah) ataukah sang pemimpin memang dzalim dan berhak dimakzulkan, bukan dengan pembantaian. Dan hendaklah keduanya mengambil jalan damai yang tidak menumpahkan darah seorang muslim yang tidak berdosa. Dengan memahami hal-hal yang dijelaskan diatas insya Allah akan lebih memudahkan kita memahami fitnah-fitnah yang terjadi setelahnya, terutama fitnah pembunuhan sayyiduna Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Penulis nukilkan pesan Rasulullah saw kepada kaum anshar yang marah dan tidak terima karena memberikan ghanimah dan fay’ kepada penduduk Makkah yang baru saja memeluk agama islam hingga berucap. “Semoga Allah mengampuni Rasul-Nya, dia memberi Qurays dan membiarkan kita padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka.”

Maka Rasulullah saw menjawab yang Artinya: “Hai kaum Anshar, aku telah mendengar perkataan kalian! Bukankah ketika aku datang kalian masih dalam keadaan tersesat kemudian Allah memberikan hidayah kepada kalian dengan perantaraan aku? Bukankah ketika itu kalian masih bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hati kalian dengan perantaraanku? Bukankah ketika itu kalian masih hidup menderita kemudian Allah membuat kalian berkecukupan dengan perantaraanku?“ Setiap kali Rasulullah bertanya, mereka menjawb: “Benar! Allah dan Rasul-Nya lebih pemurah dan utama.“ Selanjutnya Nabi saw bertanya: “Hai kaum Anshar, kenapa kalian tidak menjawab?“ “Apa yang hendak kami katakan wahai Rasulullah? Dan bagaimanakah kami harus menjawab? Kemuliaan bagi Allah dan Rasul-Nya”, sahut mereka.

Nabi saw melanjutkan: “Demi Allah, jika kalian mau, tentu kalian dapat mengatakan yang sebenarnya: Anda datang kepada kami sebagai orang yang didustakan, kemudian kami benarkan. Anda datang sebagai orang yang dihinakan kemudian kami bela. Anda datang sebagai orang yang diusir kemudian kami lindungi. Anda datang sebagai orang yang menderita kemudian kami santuni.“ Mereka menyahut histeris: “Kemuliaan itu bagi Allah dan Rasul-Nya.“ Rasulullah saw meneruskan: “Hai kaum Anshar, apakah kalian jengkel karena tidak menerima sejumput keduniaan yang tidak ada artinya? Dengan sampah itu aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja memeluk Islam sedangkan kalian telah lama berislam.

Hai kaum Anshar, apakah kalian tidak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasul Allah? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah niscaya aku menjadi salah seorang dari Anshar. Seandainya orang lain berjalan di lereng gunung yang lain, aku pasti turut berjalan di lereng gunung yang ditempuh kaum Anshar.

Sesungguhnya kalian akan menghadapi diskriminasi sepeninggalku maka bersabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga (surga). Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, dan kepada cucu kaum Anshar.“ Mendengar ucapan Nabi saw tersebut, kaum Anshar menangis hingga jenggot mereka basah oleh air mata.

Kemudian menjawab: “Kami rela mendapatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai pembagian dan jatah kami.“

Kekuasaan bagi orang terbaik hanyalah ketika orang tersebut tidak menginginkannya. Jika tidak maka kekuasaan hanyalah akan menjadi fitnah dan pertanggung jawabannya adalah dihadapan Allah swt..

Hadanallahu Wa Iyyakum Ajma’in. Amin.

Daftar Bacaan:

1. Fiqhu Al-Sirah Dirasat Manhajiyyah ‘Ilmiyyah Li Sirat Al-Musthafa ‘alaihi Al-Shalat Wa Al-salam, Asy-Syahid Prof. Dr. Sa’eed Ramadhan Buthi Rahimahullah.

2. Al-Hizbiyyah Al-Siyasiyyah Mundzu Qiyamil Islam Hatta Suqut Al-Daulah Al-Umawiyyah, Dr. Riyadh ‘isa.

3. Al-Tahalluf Al-Siyasi Fi Al-Islam, Munir Muhammad Ghadhban.

4. Al-Takaful Al-Ijtima’iy Fi Al-Islam, Syaikhul Islam Muhammad Abu Zahrah.

5. Nadhariyyah Al-Dharurah Al-Syar’iyyah Muqaranah Ma’a Al-Qanun Al-Wadh’iy, Prof. Dr. Wahbah Zuhayli.

6. Al-Daulah Al-Umawiyyah, Yusuf Al-‘isy.

7. Al-Durr Al-Mantsur, Al-Hafidz Jalaluddin Al-Suyuthi.

8. Lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s