Ulama adalah pewaris para Nabi, maka mintalah pendapat mereka, wahai para pemimpin.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Untuk pasien, kesehatan itu mudah. Cukup dengan olahraga yang teratur, jangan memakan atau meminum yang dapat merusak kesehatan, berfikir positif, dan selalu konsultasi kepada dokter jika ada masalah.

Namun seorang pasien tidak mungkin mengobati tubercolosis yang sudah malignan. Tidak mungkin ia akan membedahnya, kemudian mengangkat tumor tersebut serta membersihkan sisa-sisa yang merekat pada organ dalam manusia. Jangankan untuk itu, menempatkan posisi tumor saja seorang awam tidak akan mampu.

Begitupula dengan agama. Agama islam itu mudah dan memudahkan. Cukup lakukan rukun iman dan islam serta ihsan semampunya. Jika ada keluhan jangan lupa konsultasi kepada ahli ikhtishas. Jangan sampai pasien mendahului dokter dalam bertindak.

Seorang awam tidak mungkin menempatkan frame agama islam dalam sebuah desa, apalagi sekelas bernegara, melainkan ia harus mendalami begitu banyak cabang ilmu dalam islam (yang mana saat ini bisa dibilang hampir mustahil). Namun paling tidak hendaknya menyadari, niscanyanya untuk berkonsultasi kepada para ahli dan pakar yang jelas lebih mengetahui mengenai agama ini, apalagi negara bukan hanya menyoal nama agama atau partai saja, namun juga menyoal integralitas dan integritas bangsa yang dipimpinnya. Antara pasien dan dokter harus sama-sama mengetahui tempatnya.

Agama Islam itu sama dengan matematika, kimia, fisika, astronomi, geologi, medik dst. Sama-sama mempunyai rumus yang harus dipecahkan. Sama-sama mempunya ahli yang harus dipakai sebagai rujukan. Kalau tidak, maka 1+1 = 70. Sesuatu yang nisbi yang berkaitan dengan nyawa, rasanya tidak bisa dikatakan benar. Kendatipun syari’at berkembang, maka haruslah berkembang dengan tetap berpegang kepada sistem baku (ushul) yang mengaturnya.

Ini jelaslah bukanlah tugas orang awam. Apalagi pada kenyataannya, setelah Rasulullah saw wafatpun syari’at langsung berkembang pesat tanpa kehilangan identitas (baca tulisan saya: Sistem Pemerintahan Dan Keuangan Pada Masa Umar Bin Khattab Bag. 1 dan 2). Hanya orang baduwi saja yang pada masa itu menentang keputusan-keputusan para ulama shahabi. Rasulullah saw sendiri lehernya pernah ditarik secara kurang ajar oleh seorang Arab Baduwi lantaran ia memaksa agar Rasul saw memberikannya Ghanimah perang Hunayn; yang mana sebenarnya sebagian bessar diperuntukkan untuk Muallaf kaum Qurays. La hawla Wa la Quwwata Illa Billah!

Khawarij menyuruh untuk keluar dr tahkim, padahal mereka yang menawarkan tahkim. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang baduwi yang mempunyai semangat keagamaan tinggi, namun enggan berkonsultasi dengan yang lebih mengetahui dari para ulama shahabi dan bertoleransi. Pada perjalanannya Sayyidina Ibnu Abbas berhasil menyadarkan 4000 orang khawarij yang bughat (memberontak) kepada sayyidina Ali, semua karena ilmu beliau lebih tinggi dan diakui oleh semua sahabat rasulullah saw pada masa tersebut. Seandainya saja dari awal mereka mau belajar, tentu saja mereka tidak perlu memberontak,

Tidak seberapa penting penamaan sebuah undang-undang dengan label undang-undang Islam. Namun yang lebih penting adalah aplikasinya dan ini membutuhkan para pakar dibidangnya dan bukan mufti-mufti karbitan. Seandainya saja penamaan itu sedemikian pentingnya, maka tentu saja piagam madinah sudah dinamakan piagam islam. Apakah lantas Habibuna syafi’una Rasulullah saw dicap sebagai sekuler?

Tidak semua orang harus jadi dokter. Tidak semua orang harus jadi Insinyur. Begitu juga tidak semua orang wajib jadi ulama. Hendaklah kita sama-sama mengetahui tempat kita sebagai orang awwam, dan tidak seenaknya menghujat apalagi berdusta atas nama ulama, padahal kita belum tentu mengenal dan memahami mereka. Kalau lantas seorang insinyur tehnik bahkan tukang becak mau jadi dokter, apakah ia dapat mempertanggung jawabkan tindakannya? Jika saja mereka yang berbicara mengatasnamakan nama Islam sedangkan mereka sendiri statusnya hanyalah orang awam, apakah bisa mempertanggung jawabkannya dihadapan manusia dan Allah?

Renungkan bersama Sabda Baginda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ahmad)

Kondisi korup yang menjangkiti instansi pemerintahan semata adalah karena minimnya keyakinan mereka terhadap akhirat, surga dan neraka. Ketika seorang pemimpin dekat dengan Ulama (dalam arti yang sebenar-benarnya), maka dirinya akan lebih dekat dengan akhirat. Karena tidaklah seorang akan memimpin dengan adil kecuali mereka teringat pertanggungjawaban mereka di akhirat kelak. Maka hormatilah para Ulama, jangan mengangkat suara lebih tinggi dari mereka, apalagi sampai menghujatnya. Karena disanalah terdapat rahasia akhlak dan ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak dan mengajak manusia untuk saling membagi manfaat.

Tidakkah kita heran melihat tingkah dan karakter anak bangsa yang sudah tidak menghargai lagi para gurunya? Mereka seolah adalah raja dan guru mereka adalah pelayan. Maka haruslah kita sadari bahwa utamakan adab diatas haus titel, status, atau pujian banyak orang.  Semoga Allah swt mengampuni segala khilaf kita dan menganugrahkan keikhlasan serta adab kepada para Ulama.


Hadanallahu wa iyyakum ajma’in.

2 thoughts on “Ulama adalah pewaris para Nabi, maka mintalah pendapat mereka, wahai para pemimpin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s