Pemimpin Ideal?

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Konsep kepemimpinan oleh khawarij mengasaskan kriteria-kriteria nyaris sempurna untuk dijadikan pimpinan dan tidak wajib dari kaum qurays. Sebagian menafsirkannya sebagai demokrasi. Tujuannya agar jika seorang pimpinan tidak amanah, maka bisa langsung dimakzulkan dan tidak ada embel-embel perlindungan nama keluarga atau kedekatan dengan shahibutttauqiifi.

Konsep kepemimpinan mu’tazilah yang cenderung menetralkan diri juga menempatkan dirinya pada pendapat yang sama. Bahkan budakpun bisa menjadi seorang pemimpin. Hal ini berdasarkan pendapat sayyiduna umar bin khatab yang berkata, “seandainya salim budak abi huzaifah masih hidup, maka ia bisa saja menjadi seorang khalifah.” Seperti dinukilkan oleh ahmad amin dalam dhuha islamnya.

Konsep kepemimpinan syiah berdasarkan riwayat bahwasannya Rasulullah saw telah menunjuk penggantinya. Jika tidak ada penggantinya, maka sama saja Rasul menihilkan kedamaian pada ummatnya, begitulah argumen inti mereka dengan menyertakan riwayat-riwayat keutamaan ahlu bait.

Khawarij, mereka yang meminta arbitrase, namun mereka pula yang keluar dari jama’ah sayyidina Ali bin abi thalib. Bahkan sejarah sudah mengajarkan bagaimana mereka menghalalkan darah para pemimpinnya, dan mengambil sikap sebagai oposan terhadap dinasti ummayyah dan abbasiyyah. Jika memang benar kriteria yang mereka ajukan demikian, maka siapakah yang lebih layak dari 4 orang tersebut. Demokrasi haruslah disesuaikan dengan zaman. Dahulu adalah generasi Utama, dengan meninggalnya Rasul, mereka tidak berselisih atas kekhalifahan sayyidina abu bakar, umar, ustman, ali kecuali hanya sebagian golongan baduwi yang tidak terlalu banyak berkutat dengan dunia ilmiah pada zaman rasulullah saw.

Muktazilah mengambil stance yang hampir sama, namun tidak radikal dalam bertindak. Namun sekali lagi, apakah seseorang yang tidak pernah ke makkah dan madinah, hidup bersama seorang tokoh sejarah, menyaksikan perjuangannya, membantunya, belajar darinya serta mewariskan sikap sifat dan ilmunya atas dasar sebab akibat dr izin Allah, sanggup menjadi pemimpin diatas orang-orang yang jelas lebih utama? hanya karena suara mayoritas berbasis kuantitas, bukan kualitas??? Kita disuruh berfikir oleh Allah swt, namun pada saat yang ‘bersamaan’, Allah swt berfirman bahwa hikmah diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lantas siapa yang paling layak? Bukankah hanya retorika saja yang dimainkan? Namun kita sepakat bahwasannya tawaquf dalam permasalahan yang terjadi para zaman khalifah 4 adalah urusan Ghaib dan mencari selamat dengan tetap menegaskan sahnya ijtihad-ijtihad mereka.

Syiah selain zaidiyah (zaidiyah hanya mengambil ‘afdhaliyah’ ali ra atas yang 3 namun tetap mensahkan kekhalifan ketiganya), mengambil sikap yang juga radikal. Semua bentuk kekhilafahan setelah Rasulullah saw yang tidak dipegang oleh ahlu bait adalah tidak sah, bahkan sebagian mengafirkan para sahabat. Hal ini tentu saja adalah kebodohan, bagaimana mungkin mereka (syiah) menjadi lupa, bahwa yang memperjuangkan islam dengan jiwa raga bersama Rasulullah saw kemudian mendadak haus kekuasaan? Ketahuilah bahwa Abu bakar, umar, apalagi ustman adalah orang-orang terpandang dan kaya. Namun tak pelik, Umar dituliskan sebagi gembong penyamun dan kehidupannya adalah kehidupan miskin dan hina sebelum islam. Kematian salah seorang pemimpin kaum anshar Sa’ad bin Ubadah dianggap hasil Ightiyal dan konspirasi Umar, sebagian yang sedikit objektif menganggapnya itu adalah perbuatan Jin. Abu bakar dituruh merampas peninggalan rasulullah saw yang jumlahnya tidak seberapa. Lucunya, imam mereka ‘hilang’ entah kemana, dan ‘jabatannya’ dipegang oleh wilayatul faqih dan dianggap sebagai lisan dari para imam yang ma’shum yang ghaib tsb. Bukankah ini sebuah pembenaran kekuasaan?

Kekhalifahan hanya terjadi selama 30 tahun setelah wafatnya baginda Nabi saw dan haruslah dari orang qurays. Wajar sekali karena mereka memang yang mendampingi rasulullah saw terus menerus. Umar bin abdul aziz termasuk yang diakui bahkan oleh orang syiah sendiri.

Warisan jabatan melalui monarki ataupun kekeluargaan hanyalah akan berbuntut pengkastaan yang nihil manfaat. Penunjukan kriteria adalah dengan menimbang dan menimbang, tidak ada bentuk baku apakah harus ahlul bait ataukah kaum qurays yang menjadi pimpinan suatu kaum. Karena bagaimanapun justru mereka yang berhak menjadi pimpinan, menolak ketika diberikan jabatan. Kendatipun menerima, mereka berlaku seadil-adilnya.

Sebenarnya kesemua kelompok hampirlah sama, menginginkan kebaikan.

Sekali lagi: laisuu sawaa’ semuanya belum tentu sama. Maka mengapa kita tidak mencari kesamaan dalam kebersamaan?!

Bagaimana dengan saat ini? Saya harap mesir bisa bangkit menjadi penunjuk jalan bagi ummat islam dunia, saya berharap Al-azhar mampu menjadi penerang bagi pemimpin mesir saat ini, siapapun dia…

Indonesia bagaimana? Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s