Menanti Kemakmuran dan Persatuan Negri?

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Roger bacon pernah berkata; Mempelajari bahasa arab adalah niscaya. Karena dengan mempelajarinya kita dapat mempelajari kemajuan mereka (Kaum Muslimin).

Islam tidak hancur hanya dikarenakan tidak mau 100 % mengambil ‘kemajuan’ barat.
Islam tidak hancur hanya dikarenakan meninggalkan 100 % ‘kemajuan’ barat
Islam juga tidak hancur dikarenakan meninggalkan yang buruk dan mengambil yang baik dari ‘kemajuan’ barat.

Namun kemunduran Islam adalah menjadikan barat sebagai Tolak Ukur, dimana sebenarnya Tolak ukur ada pada ‘musyahadah’ iman kepada Allah, Rasul, dan risalahnya.

Lantas apakah ilmu itu? Tafsirkah, fikihkah, tauhidkah, hadistkah, bahasakah? Ya mereka adalah bagian dari ilmu. Namun buka mahiyah semua ilmu.

Al-qur’an telah mengarahkan bagaimana seorang Alim dan para Ulama yang mengetahui rahasia-rahasia langit dan bumi, rahasia-rahasia tubuh manusia, hewan, tumbuhan, dst sebagai Ilmu. Ilmu yang seharusnya dapat membuat seseorang takut kepada Allah. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Ilmu sangat luas, dan dengan kebersamaan semua pihak dengan spesialisasi masing-masing mereka, dan hanya dengan takut kepada Allah swt sebagai dasar, ummat islam ini bisa bangkit kembali. Kedokteran, Fisika, Astrologi, Astronomi, Geologi, Engineering, dst adalah bagian daripada cabang Ilmu yang harus digali oleh setiap muslim, tanpa meninggalkan identitas mereka.

Contoh kecil dari kesalahan fatal dalam perkembangan teknologi yang menjadi ‘anggukan’ masyarakat kini.

Kita hancur bukanlah karena modernisasi teknologi, namun hancur karena ketiadaan rasa takut kepada Tuhan dan Hari pembalasan. Akibatnya bid’ah yang sebenarnya merajalela. Ghibah dipertontonkan dan menjadi acara favorit keluarga, padahal dosanya sangat besar. Salah satu dari tiga hal yang paling banyak menyebabkan siksa kubur adalah saudaranya ghibah, yaitu namimah (menghasut/mengadu domba).

Menurut Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah dijelaskan bagaimana pengghibah dosanya lebih besar daripada 30 orang yang berzina. Dan yang mendengarkanpun termasuk didalamnya, baik yang dibicarakan tersebut benar atau tidak benar.

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: ومعني الغيبة ان تذكر إنسانا بما يكرهه لو سمعه فأنت مغتاب ظالم وإن كنت صادفا

Rasulullah saw bersabda: “Dan arti ghibah itu apabila dirimu membicarakan orang apa yang dibenci olehnya jika dia mendengarnya, maka kamu termasuk orang yang aniaya meskipun kamu benar.”

Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah saw. Disini beliau tidak membedakan apakah kabar tersebut benar atau tidak. Bahkan beliau mengatakan إنسانا secara narkirah yang biasanya digunakan  untuk mengaplikasikan sesuatu yang sifatnya umum, artinya semua orang.

Lebih lanjut Imam Ghazali mengatakan, bahwa ghibah itu mengumpulkan dua hal: 1. Menyebarkan keburukan dan aib orang lain 2. menimbulkan rasa bangga diri, sombong dan menganggap rendah orang lain bagi si penggunjing.   Jika hal seperti ini dilarang, lantas mengapa begitu gemarnya kita melihat acara gossip yang dipertontonkan? Inilah buah simalakama dari teknologi ketika berada ditangan yang baik, ia akan baik dan Vice versa..

Hal ini tentu saja bukan berarti kita tidak boleh mengkritik orang lain demi kebaikan seperti misalkan koruptor, namun alangkah baiknya jika hal tersebut tidak menguap menjadi sebuah isu saja. Ada baiknya kita setidaknya mendoakan sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar dengan hati, bukan malah mengumpat atau menghina. Akhirnya kita termakan tipuan yang dilancarkan oleh setan tanpa kita sadari.

Mungkin sepertinya tidak ada hubungannya, namun bisa dibayangkan kalau seluruh bangsa ini menggunjing?Apakah tidak menimbulkan murka Allah? Padahal masih banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi, seperti menyebarkan kajian-kajian para ulama, mengadakan perlombaan yang islami dst. Namun tampaknya animo masyarakat indonesia perlahan sudah tergerus zaman., tidak lebih mencintai acara tausiyah agama ketimbang sinetron, gossip dst. Ini baru satu contoh kecil saja, belum lagi yang lainnya.

Menanti kejayaan islam tidak bisa hanya dengan koar-koar, atau marah membabi buta, apalagi membid’ahkan, mengafirkan seenaknya. Namun harus ada tahapan yang prosedural sebagaimana diajarkan Rasulullah saw. Islam adalah Rahmat bagi seluruh Alam, maka hendaknya seorang muslim juga menjadi Rahmat bagi sekitarnya, caranya tentu saja dengan mempelajari islam kepada ahlinya, bukan hanya melalui tulisan atau debat-debat tidak jelas di internet. Nah ini juga salah satu fenomena berbahaya dari teknologi, yaitu informasi yang menyesatkan.

Maka semoga kita diberikan Allah swt kekuatan untuk menggisi waktu kita sesuai kapasitas masing-masing memberikan kemanfaatan untuk manusia dalam 1 frame, yaitu sama-sama yakin bahwa semua ini adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan kepada Allah swt.

Hadanallah wa iyyakum ajma’in.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s