Kemana Sebenarnya Kita Harus Kembali.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Bicara basis tentu saja sama dengan membicarakan ruh sebagai tombol ‘start’ pada tubuh manusia. Maka basis pertama hukum dan aturan bagi manusia adalah text : yaitu kitab Allah dan sunnah rasulullah saw. Alqur’an menyerupakan sebuah bentuk sempurna yang terdiri dari kaidah-kaidah dan pondasi-pondasi yang menegakkan agama. Walaupun tidak mencakup cabang demi cabangnya. Sedangkan sunnah adalah yang menguraikan cabang-cabang tersebut dan menyempurnakan penjelasan atasnya. Semua dari pengetahuan ini diberikan kepada nabi saw dalam bentuk ibtida’ dan sabab (permulaan sebuah hukum, dan sebab akibat hukum dari fenomena-fenomena), dan tidak ada yang dapat memisahkan keduanya, karena keduanya adalah tiang penegak, dan sumber yang kepadanya kembali segala persoalan.

karena agama ini adalah agama yang wajib untuk diikuti, dan tidak berdikari diatas akal tanpa kerangka, atau eksperimen manusia semata. Karena ia adalah risalah langit yang abadi bagi para penduduk bumi agar mereka dapat melangsungkan kehidupan sebagaimana mestinya, hingga alam beserta isinya dikembalikan kepada yang memilikinya. Agama selalu kembali kepada text, dengan tentu saja memperhatikan buah olah akal cerna manusia. Hingga ada seorang arab yang berkata, “Sungguh aku tidak pernah melihat muhammad saw mengerjakan atau mengatakan sesuatu, kemudian akal menolaknya, “jangan lakukan itu.”

Jadi dapat diambil kesimpulan singkat:

1. Asal daripada setiap agama adalah text, sebagaimana syari’at islam adalah agama, maka sifat asalnya kembali kepada text.

2. Tidak diragukan lagi bahwa bagi akal sebuah gerak guna menyimpulkan hukum dan hikmah yang terserat di dalam text tersebut. Akan tetapi hal ini hendaknya berdiri diatas dua kaki:

Yang pertama, adalah mengetahui visi dan misi daripada syari’at yang termaktub tersebut. Bagi manusia agar mengetahui hikmah dari semua yang terwurud didalam text yang mengandung hukum. Kemudian mensarikan sebuah pegangan yang benar untuk diterapkan di lapangan hukum dalam semua aspek yang menyerupainya. Kemudian setelah mengetahui misi dan tujuannya, manusia hendaknya dapat menyimpulkan dalam satu skema besar kehidupan dari apa yang terlahir sebagai pegangan dari hukum-hukum yang berbeda. Dan hal ini tentu saja menjadi sebuah hal yang sudah niscaya untuk dikerjakan oleh manusia untuk kelangsungan hidup mereka yang lebih baik.

Yang kedua, kaitannya bagi manusia agar mampu memberikan keputusan konglusif ‘nan’ produktif dari apa sebenarnya yang terkandung dari text-text tersebut ketika ada sebuah fenomena yang terjadi yang tidak tertera hukumnya secara gamblang didalam kumpulan text-text tersebut. Hidup tetap berlanjut setelah Rasulullah saw wafat, dan sampai detik ini kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya menuntut manusia untuk bisa menimbangnya menggunakan barometer ukur (lisanul mizan) yang memiliki kesamapadanan, keserupaan, atau kebalikan daripada yang tertera didalam text.

Maka daripada itulah para Rasulullah berijtihad, para sahabat berijtihad, ulama salaf berijtihad, ulama khalaf berijtihad, ulama kontemporer berijtihad. Alasan yang tendensius adalah Dikarenakan merekalah manusia terdisiplin dan terpilih dizamannya untuk mewarisi ilmu rasulullah saw. Yang kedua adalah penguat yang pertama, bahwa hidup itu berkembang, bergerak, dan berbeda-beda dari zaman ke zaman. Dari mereka pasti memiliki keseragaman dan juga perbedaan, namun semuanya tetaplah berada dalam naungan text dan tidak keluar darinya. Ada yang membatasi kongklusifitas segaris analogi antara hukum yang sudah tersegel mati dengan analogi hukum sebuah fenomena yang sifatnya baru yang darinya timbulah rumus-rumus. Pegangan rumus yang teruji yang kemudian dinamakan sebagai ‘illat, digunakan untuk menimbang dan memberikan putusan kepada fenomena-fenomena yang belum disegel secara mati oleh text. Diatara para scientist tersebut ada yang mengambil jalan ini. Ada segolongan lagi yang memberikan formula baru yang bersandar kepada kerangka umum text-text tersebut dengan pegangan substansi text yang mengacu kepada kemanfaatan dan kemaslahatan manusia serta menafikan kesulitan bagi mereka. Kesemuanya tanpa menihilkan ke titik nol text yang telah tersegel tersebut. Dan ada diatara mereka yang menggunakan akal sebagai penimbang, akal kemudian berujung kembali kepada maslahat. Perbedaan diatas dekat sekali jika dilihat dan dikaji dalam segi visi serta misi. kesemuanya bertujuan agar hidup manusia berjalan sebagaimana mestinya, aman, tentram, tanpa pertikaian yang memecah belah.

Inilah sebutir debu potret ulama pewaris nabi, dan manusia umum yang seharusnya mengejardan meminta penerangan mereka dalam setiap permasalahannya.

Namun sayang, di negaraku ini, semuanya sudah dibikin bingung oleh sebuah entitas bernama politik dan kepentingan. Kawan menjadi lawan dan lawan dijadikan kawan. Zaman sudah mengikis asa, menihilkan kecintaan kepada ilmu dan kebersamaan.

Semoga kita bisa mendahulukan kebersamaan dan toleransi berbasis ilmu, dan bukan prejudice.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s