Ilmu Kalam (yang) bukanlah sebuah senda gurau atau perdebatan tanpa faidah.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Syahdan, seorang punggawa Jabariyah, Jahm bin shafwan pernah bertanya kepada Imam Abu Hanifah An-Nu’man ra menyoal iqrar syahadat dengan lisan. Apakah ia menentukan kafir/mukmin nya seseorang?

Jahm berkata, “Apakah seseorang yang sudah mengenal sifat-sifat Allah swt, dia tidak menyekutukan-Nya, kemudian dia juga tidak mentasybihkan-Nya (antrophomorphistic), jika ia meninggal sebelum melafadzkan syahadat, apakah dia kafir?”

Imam Abu Hanifah menjawab, “Ya, dia kafir dan ahli neraka. sehingga ia berbicara seperti apa yang diyakininya.” (dalam konteks ‘adamul khata’, al-nisyan, dan al-istikrah ‘alayh sebagaimana disebutkan didalam hadist nabi saw)

(Kerennya) Sebelum menjawab Imam Abu Hanifah bertanya terlebih dahulu, “apakah kamu mengimani Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai hujjah? Jika iya, maka aku akan menggunakan keduanya (sebagai hujjah atasmu). Namun jika tidak, maka aku akan memberikan argumentasi layaknya aku memberikannya kepada orang yang mengingkari Al-Qur’an dan As-sunnah.

Jahm menjawab, “Ya, saya beriman kepada keduanya.”

Lalu Imam abu hanifah membacakan sebuah ayat Al-Qur’an surat al-maidah ayat 83 sampai ayat 85,

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ

وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلصَّٰلِحِينَ

فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُوا۟ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْمُحْسِنِينَ

serta banyak lagi ayat-ayat lainnya dari surat al-baqarah, dan juga hadist kanjeng Nabi Muhammad saw;  قولوا لا إله إلا الله تفلحوا

Allah swt memasukkan mereka ke dalam syurga dengan mengenal (Al-Ma’rifah) kepada Allah swt dan mengimani-Nya serta menjadikan mereka mukmin dengan 2 perkara: Hati dan Lisan.

يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة

Akhirnya Jahm berkata, “Sesunggughnya engkau telah meletakkan satu perkara dalam hatiku, dan aku akan kembali menuruti engkau.”

Lebih lanjut Imam Abu Hanifah Ra mewasiatkan, agar melayani debat dalam diskursus ilmu kalam semampunya saja. Karena jika dipaksakan maka akan membawa kekeliruan.

Dalam konteks ini Imam As-Samarqandi Al-Maturidi (abad ke 4 Hijriyah) menukilkan beberapa perdebatan dalam syarah fiqh al-akbar milik imam Abu hanifah tentang iman, meski terhadap asya’irah menurut ane beliau sedikit berlebihan dalam beberapa hal misalkan menyoal af’alul ‘ibad. Dan tidaklah berbeda Asya’irah dan Maturidiyah melainkan hanya dalam furu’iyyat dan kecil saja.

Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s