Al-Dzari’ah dan Machiavelli

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Antara kepentingan dan kemaslahatan tentu saja ada yang menjadi titik pisah jika ditinjau dari berbagai aspek. Ada kepentingan dan maslahat yang lulus uji oleh syari’at dan layak untuk dinamakan sebagai Dzari’at. Serta ada yang serampangan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Al-dzari’ah memiliki beberapa definisi, menurut ulama ushul ia adalah : هي التي يتوصّل الشىء إلي الشىء , menurut Ibnu Qayyim : ما كان وسيلة وطريقا إلي الشيء.  Dapat disimpulkan bahwa, Al-Dzari’ah ialah medium yang membawa kemaslahatan, maka ia dituntut dalam syari’at, dan jika membawa kerusakan maka ia dilarang.

Imam Al-Qarafi berpendapat, Dzari’ah itu sebagaimana ia ditutup, begitupula ia ada yg  dibuka, ada yg wajib, mandub, makruh dan mubah. Menurut dr wahbah, ulama ushul memegang 3 hal sebagai patokan;

1. isytibah (ada analogi hukum yang sesuai) 2. fi al-fitnah (ada fitnah) dimana dua poin ini masuk ke sadd al-dzarai’ misal jual-beli senjata saat negri sedang chaos dan tidak aman yang mana imam malik dan ahmad berpendapat no way, soalnya hanya akan menambah permusuhan. dan yang ke 3. Fath Al-Dzarai’ yang contohnya dibenarkan bagi negri muslim membayar upeti untuk menghindari penyiksaan dan bahaya dari negri kuffar menurut imam Al-Qarafi dalam al-buruqnya.

Gambarannya memberikan harta ini adalah maksiat, namun guna mencegah kemudharatan yg lebih besar, maka dibolehkan. Bahkan menurut dr. wahbah, Boleh hukumnya memberikan uang suap kepada org yang dzalim, jika disana seseorang ingin mencegah org dzalim itu dr kerusakan, ataupun mengambil apa yg menjadi haknya.

Yang menjadi dalilnya adalah, riwayat dr abu ya’la dalam al-kabir, ketika rasulullh saw memberikan sedekah kepada pada mulhifin, padahal mereka tidak berhak. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda,: عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : رواه أبو يعلى بإسناد جيد وروي عن أحمد نحوه ورجاله رجال الصحيح . إن أحدكم ليخرج بصدقته من عندي متأبطها أي يحملها تحت إبطه وإنما هي له نارًا- قال عمر : يا رسول الله كيف تعطيه وقد علمت أنها له نار ؟ قال فما أصنع يأبون إلا مسألتي ويأبى الله عز وجل لي البخل

Maka ringkasnya disini yg menjadi letak permasalahannya adalah idrak dalil dan idrak waqi’, barulah sesuatu itu bs ditindaklanjuti dengan benar, karena tidak mungkin seseorang melamar wanita yang sedang menjalani masa iddah dari suaminya yang terdahulu secara terang-terangan dan agresif, hanya karena alasan semua untuk kemaslahatan ataupun mencegah kemudharatan bagi dirinya. Karena yang ada ia malah berpotensi merusak bagi hak-hak antara si perempuan dengan suami yg mentalaknya. hehehe…Jadi yang perlu dibedakan dengan machiavelliyah; The end justifies the means /  الغاية تبرّر الوسيلة; adalah bingkai syara’nya harus selalu menempel dan menjadi pengarah serta pengayom daripada sebuah cara untuk mencapai tujuan yang diatur juga oleh syara’. Kemudian Dzari’ah mempunyai ciri secara makro, yaitu ia akan selalu berdiri diatas kepentingan jama’ah ummat islam, dan bukan sekedar golongan. Serta tidak menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan pribadi dan meloloskan maslahat golongan semata.

Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s