Maulid Nabi; Bid’ah atau Sunnah?

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan singkat  ini bermaksud untuk sedikit menjelaskan dalil-dalil para fuqoha dan para ahli hadist tentang fadhilah merayakan maulid nabi Muhammad saw  sebagaimana ummat islam mayoritas melaksanakannya. Dalam kacamata perbandingan syari’at, tentu saja sering kali hal ini menuai pro dan kontra.  Namun yang menjadi sumber petaka adalah pembid’ahan yang dinisbatkan kepada maulid nabi dan orang-orang yang melaksanakannya. Yang mana mayoritas ulama bersepakat, bahwa yang membid’ahkan perayaan maulid nabi adalah perbuatan yang menyalahi sunnah. Sebagaimana maulid nabi adalah ijtihad yang ma’jur meskipun salah, maka pembid’ahannya pun adalah sebuah kebid’ahan. Karena segala sesuatu yang telas ditetapkan oleh syari’at secara literal (dalilan) ataupun kongklusi dari dalil tersebut (isthinbathan) maka hal tersebut adalah baik, dan bukanlah sebuah kebid’ahan. Karena sesungguhnya Allah swt telah berfirman :  وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون , berbuatlah kebaikan agar kamu menjadi orang-orang yang beruntung (Surat Al-hajj: 77). Semoga Allah swt memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua.

Muqaddimah.

Apakah mungkin Rasulullah saw telah menjelaskan hukum merayakan hari kelahiran beliau, kemudian terjadi perpecahan besar antara sunnah yang terpuji dan bid’ah yang menyesatkan, dengan menimbang bahwasannya setiap kesesatan akan kembali ke neraka? Tentu saja tidak mungkin, kecuali jika kita meninggalkan kaidah-kaidah agama kita dalam berijtihad bagi masalah-masalah yang menjadi mukhtalaf (Debacle) bagi ummat ini.  Apa maksud dari hadist Nabi saw, bahwa Perbedaan adalah Rahmat? Perbedaan yang dimaksud oleh Rasulullah saw tidak lain dan tidak bukan adalah Ijtihad. Sebagaimana beliau saw bersabda:   إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران ، وإذا حكم فاجتهد فأخطأ فله أجر. “Jika seorang hakim berijtihad dan dia benar, maka baginya dua pahala/kebaikan. Dan jika seorang hakim berijtihad kemudian dia salah, maka dia mendapatkan 1 pahala/kebaikan.”

Tentunya kita tidak perlu melebarkan pembicaraan kepada siapa sebenarnya yang menjadi hakim tersebut. Namun nampaknya hal inilah yang entah sengaja atau tidak, ingin coba dihilangkan oleh sebagian kaum, dengan alasan “Tidak ada hajat mengikuti pendapat para ulama (taqlid/slavish)  jika mereka mengingkari Kitabullah, sunnah, dan salaf.”  Disini entah siapa salaf yang dimaksud, karena pada kenyataanya, justru salafuna shalih seperti imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Al-suyuthi, Imam Taj dan Taqy Al-subki, Ibnu hajar Al-haitami, dan seterusnya dari list yang amat sangat panjang justru menganjurkan dan memuji amaliyah maulid Nabi.

Maka kita kembali kepada pertanyaan awal, apakah maulid itu dari amalan sunnah ataukah bid’ah? Orang yang berakal tentunya akan membedakan, antara sesuatu yang dilarang dengan sesuatu yang baik yang dibolehkan oleh syari’at. Karena Islam tidaklah bertahan selama 1400 tahun lebih dengan text Al-qur’an dan Sunnah semata, namun juga karena pewaris para Nabi, yaitu ulama-ulama yang telah belajar islam langsung kepada sumbernya dan memiliki sanad bersambung hingga kepada Rasulullah saw dan ijtihad-ijtihad mereka, sehingga islam dapat lestari dimanapun ia berada. Allah swt telah berfirman:  وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا (Al-hasyr : 7). Yang artinya: “Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah maka ambillah (kerjakanlah), dan apa yang dilarang oleh Rasul atasnya maka tinggalkanlah.”

Menurut Ibnu Al-‘Arabi Al-maliki, dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an, kendatipun ayat ini terkandung makna khusus yang berkaitan dengan hukum fikih menyoal Ghanimah dan Fay’, namun Ayat ini juga mengandung makna umum, dan inilah yang dipilih oleh beliau sebagai al-ashah. Artinya bahwasannya segala sesuatu yang dilarang secara jelas oleh Rasulullah saw maka tentu saja harus ditinggalkan, dan apa yang diperintahkan beliau maka harus kita laksanakan.

Dalam hal ini Allah swt tidak menyuruh kita untuk meninggalkan semua yang tidak tercatat pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Artinya jika ada sebuah fenomena baru yang dihadapi sang mujtahid, maka tugasnya adalah meneliti apakah fenomena tersebut memiliki asal dan perlindungan serta prinsip dalam syari’at ataukah tidak? Jika sudah ada basisnya, apakah hasil daripada formulasi ijtihad tersebut benar ataukah salah? Orang yang bodoh akan mengumpulkan antara kesalahan seorang mujtahid dalam memutuskan perkara dan melabelkannya dengan nama bid’ah.  Maka harus ditegaskan kembali kendatipun secara manhaji kita boleh untuk mencari tau thuruq istimbat para ulama mujtahid, namun harus dipertegas bahwa  Ijtihad bukanlah tugas orang awam.

Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.

Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.  Disana beliau juga bersedekah dan memberikan makanan bagi para fakir miskin.

Namun apakah benar, hanya karena sesuatu tersebut dianggap baru, lantas ia adalah bid’ah? Berapa banyak amalan-amalan yang dilakukan sahabat baik dalam hal ibadah maupun keduniaan yang tidak pernah secara langsung/sharih  kita temukan. Beberapa contoh kecil saja yang sudah masyhur, ijtihad sayyidina Abu bakar bahwa fakir miskin ditanggung oleh kas Negara (Baitul mal),  Shalat tarawih,  dan jaminan karya  (copyright) yang dicetuskan oleh sayyidina umar, Adzan pertama oleh sayyidina utsman, pengajaran Nahwu oleh sayyidina ali, perkuliahan yang diasaskan oleh sayyidina Ibnu Abbas, dengan mata kuliah utama Tafsir dan Takwil, sehingga banyak menghasilkan mufassir andalan seperti Mujahid, Ikrimah, Thawus dan lain seterusnya yang bisa kita rujuk di khazanah kitab-kitab klasik maupun intisarinya dari kitab-kitab kontemporer. Namun dari semua ijtihad tersebut bermuara kepada satu kesimpulan, yaitu ‘menjaga maslahat umum dan menebarkan kebaikan’. Tidak pernah kita temukan, ada bentuk ijtihad yang isinya menyulitkan maslahat umum ataupun menyuruh kepada kesesatan dan keburukan. Jika benar ditemukan, maka itu tidak lain adalah mereka-mereka yang berani berfatwa sebelum ilmunya mendahului lidahnya (Al-tajarru’ Fil Fatwa).

Justru orang-orang yang gemar membid’ahkan amalan-amalan maulid adalah orang-orang yang membid’ahkan sunnah rasulullah saw dan para sahabatnya sendiri. Sebab amalan-amalan maulid tidak lain adalah kumpulan amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah saw, yaitu membaca Al-qur’an, mendengarkannya, memperbanyak shalawat, berkumpul di majelis ilmu, kemudian memakan makanan secara bersama-sama, mempererat tali silaturahmi, semuanya adalah bagian dari amalan maulid nabi saw.

Kendatipun bentuknya sebelumnya belum dijalankan secara digabung, namun inilah yang dimaksud dengan sunnah hasanah sebagaimana disebutkan dalam hadist nabi yang masyhur:  مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ.  ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ. “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” Hadist ini coba ditakwil oleh orang-orang yang menolak takwil dengan mengatakan bahwasannya maksud dari ‘man sanna’ adalah ‘man ahyaa’. Namun justru hal ini menjadi sebuah ambigu yang absurd serta menegasikan prinsip mereka sendiri yang mengaku anti takwil.

Maka dari sini dapat kita fahami, bahwa yang dimaksud  bid’ah adalah kesesatan yang tidak ada tuntunan ataupun petunjuk dari Al-qur’an dan Sunnah, baik secara jelas (sharih) maupun hasil ijtihad para mujtahid (Istinbat).

A.  Dalil-dalil yang menegaskan bahwasannya amalan maulid adalah bagian dari sunnah Rasulillah saw.

a. Membaca  dan mendengarkan Al-qur’an; diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

1. وَ إِذا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A`râf [7]: 204).

-2.  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ (رواه أبو داود
Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang bangkit untuk membaca Al Qur’an sebanyak 10 ayat maka tidak dicatat sebagai orang yang lupa, dan siapa yang membaca 100 ayat akan dicatat sebagai orang yang taat dan siapa yang membaca 1000 ayat akan dicatat sebagai orang kaya yang suka bersedekah.”

3.  اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
(رواه مسلم)
Bercerita kepadaku Abu Umamah al-Bahily, aku mendengar Rasulullah bersabda :
“Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya dia datang memberi syafaat bagi pembacanya di hari Kiamat.” (HR. Muslim)

4.  قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري ) .
Dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
( HR. Bukhari)

5.  Diriwayatkan bahwa pada suatu malam, Nabi Muhammad SAW mendengarkan Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an sampai jauh malam.  Sepulang beliau dirumah, beliau ditanya oleh isteri beliau Aisyah r.a, apa sebabnya pulang sampai jauh malam.  Rosulullah menjawab, bahwa beliau terpikat oleh kemerduan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an, seperti merdunya suara Nabi Daud a.s.

6. Rasulullah saw minta dibacakan Al-qur’an oleh Sayyidina ibnu mas’ud ra dalam sebuah riwayat yang masyhur.

7.   Di dalam sirah Ibnu Hisyam, banyak sekali diceritakan,  betapa pengaruh bacaan Al Qur’an pada masa Rosulullah terhadap hati orang-orang kafir yang setelah mendengarkan bacaan Al Qur’an itu. Tidak sedikit hati yang pada mulanya keras dan marah kepada Muhammad SAW serta pengikut-pengikutnya, berbalik menjadi lunak dan mau mengikuti ajaran Islam.

8. إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ. رواه مسلم . Sesungguhnya Allah swt dengan Kitab ini (Al-qur’an, mengangkat suatu kaum dan menghinakan yang lainnya)

b. Memperbanyak shalawat.

1. Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ))

“Jika kalian mendengar orang yg adzan maka ucapkanlah seperti apa yg ia ucapkan & bersholawatlah untukku karena barangsiapa yg bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah  untukku, karena ia adl sesuatu kedudukan di surga yg tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah & semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yg memohon untukku wasilah maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” [H.R. Muslim]

2. ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))
“Barangsiapa yg bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali & di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]

3. ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))
“Barangsiapa yg bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad & perawi hadits yg tiga]

4. اَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً(رواه الترمذى)

“sesungguhnya yang paling dekat denganku di hari qiyamat nanti adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.(HR. Tirmidzi)

c.  Dzikir berjamaah dan Mendengarkan Nasehat agama.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني
Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir dan tidak mengharap kecuali ridla Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian. (HR Ath-Thabrani).

d. Makan secara berjama’ah.

1. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( طَعَامُ الاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاثَةِ وَطَعَامُ الثَّلاثَةِ كَافِي الأَرْبَعَةِ
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Makanan dua orang itu cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang itu cukup untuk empat orang.”

2. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طعام الواحد يكفي الاثنين . وطعام الاثنين يكفي الأربعة . وطعام الأربعة يكفي الثمانية رواه مسلم.
Rasulullah saw bersabda: “Makanan untuk dua orang itu cukup untuk empat orang. Dan makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang. (HR. Muslim).

B. Apa saja fadhilah memperingati Maulid Nabi?

a. Nabi saw adalah orang pertama yang memperingati hari lahirnya sendiri. Jadi memperingatinya adalah salah satu bentuk kesyukuran dan kecintaan pada beliau.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).

b.  Abu lahab membebaskan tsuwaibah karena bahagia atas kelahiran rasul saw. Maka setiap hari senin abu lahab mendapatkan keringanan dri Allah swt dengan memberikan minum dari lekukan antara jempol dan jari telunjuknya meskipun dia di neraka. Orang musyrik dan kafir saja sedemikian rupa mendapatkan fadhilah dari cintanya kepada baginda Rasul saw, padahal waktu itu syari’at belum turun, dan beliau belum diangkat menjadi utusan Allah.

c. Menunjukkan cinta kita kepada rasulullah saw sebagai rasa syukur sebagai ummatnya, dan memperbanyak shalawat agar mendapat syafaatnya kelak. Dan sebagai syi’ar kepada ummat non-muslim serta menjadi icon persatuan ummat islam sedunia.

d.  Mempelajari kisah hidupnya, agar tau bagaimana perjuangan beliau, dan untuk apa beliau diutus ke muka bumi.

e. قال الإمام البخاري ـ رحمه الله ـ في (كتاب الإيمان) من صحيحه:

حدثنا يعقوب بن إبراهيم قال حدثنا ابن علية عن عبد العزيز بن صهيب عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم (ح) وحدثنا آدم قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين)).

Seandainya saja orang merayakan ulang tahun anaknya, cucunya, presiden/pimpinan negara, ulang tahun kemerdekaan negara, atau bahkan organisasi (yang isinya tidak bisa dibandingkan dengan isi maulid nabi yang benar) lantas kemudian ia membid’ahkan peringatan Maulid Sayyidul kaunayn wal tsaqalayn, sebagai wujud pengamalan banyak hadist-hadist yang dijadikan dan dikumpulkan dalam satu momen yaitu acara maulid (seperti membaca al-qur’an, dan mendengarkannya, memperbanyak shalawat dan dzikir baik sendiri maupunn bersama, mengajarkan sirah dan hikam nabawiyah, serta kemudian makan bersama lalu pulang) apakah sungguh masih mengaku bahwa dirinya yang paling mencintai dan mengamalkan ajaran Rasulullah saw serta menuduh sebagai perbuatan bid’ah, sungguh dia harus banyak-banyak introspeksi.

Maka jelaslah bahwasannya amalan maulid nabi ini bukanlah amalan bid’ah. Justru adalah amalan sunnah, hanya saja bentuknya baru karena semua amalan-amalan diatas digabung didalam satu acara.

f. Rasulullah saw bersabda, “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintainya.” Al-mar’u ma’a man ahabba. Jika kita mencintai Rasulullah saw, maka kita akan bersama beliau. Jika kita tidak mencintainya, malas bershalawat, malas menunaikan kewajiban dan sunnah-sunnahnya, maka jangan heran apabila nanti kita tidak bersama beliau. Dan maulid nabi adalah salah satu diantara banyak sekali cara untuk mengungkapkan cinta dan rasa syukur kita atas nikmat yang terbesar yang dianugrahkan Allah swt kepada hamba-Nya.

Epilog

Dari uraian singkat diatas, hendaknya dapat disimpulkan bahwasannya amalan maulid Nabi Muhammad saw bukanlah amalan bid’ah sebagaimana dinyatakan banyak orang. Terlebih ia adalah amalan yang baik yang berasaskan dalil Al-Qur’an dan Al-sunnah.

اللهم صلّ وسلّم علي سيدنا محمد وعلي اله واصحابه وورثتهم ومن تبعهم باحسان الي يوم الدين.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s