Antara sikap pelit dan boros dalam kehidupan berumah tangga.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

“Suamiku pelit, Ia tidak mau membelikan segala kebutuhan pokokku. Sedangkan ia sangat bermurah hati kepada keluarganya, namun tidak kepadaku.” Dalam fenomena lain, ada suami yang mengeluhkan keadaan istrinya, “Istriku adalah orang yang amat boros. Ia tidak pernah perduli berapa banyak harta yang telah dikeluarkan. Ia pun tidak pernah menghiraukan penolakanku (atas permintaannya itu), ataupaun kelelahanku. Istriku adalah seseorang yang permintaannya sangat banyak sekali.” Dan lain sebagainya.

Sepertinya hampir seluruh rumah tangga yang ada dimasyarakat kita, tidak terlepas dari masalah ini. Sang suami menuduh istri sebagai pemboros, sang istripun menuduh suami sebagai seseorang yang pelit. Padahal permasalahan seperti ini, terkadang dapat membawa kepada jurang pertikaian dan mengancam kehidupan berumah tangga. Bahkan hal ini pun dapat menyebabkan terjadinya perceraian yang dapat menghancurkan keluarga tesebut.

Permasalahan yang demikian ini, terjadi disebabkan dari bermacam aspek, baik itu dari suami, ataupun dari pihak istri. Yang masalah utamanya adalah, kitidakmengertian keduanya, tentang kewajiban dan hak yang harus ditunaikan, oleh masing-masing suami ataupun istri.

Kewajiban seorang suami kepada istrinya, adalah menafkahinya. Perbuatan ini adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, serta ibadah yang bernilai tinggi. Nafkah yang dimaksud meliputi, Makanan, Minuman, Pakaian, tempat tinggal, serta segala apa yang dibutuhkan oleh seorang istri dalam hidupnya. Allah Swt telah menetapkan, bahwa peran kaum lelaki, adalah sebagai pemberi nahfkah kepada kaum perempuan. Karena hal itulah, kaum lelaki pemimpin yang mempunyai tanggung jawab, hak, serta keutamaan atas kaum perempuan, didasari kewajiban seperti membayar mahar dan memberikan nafkah. Allah Swt berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” Kewajiban memberikan nafkah ini telah ditetapkan menurut Al-Qur’an, Sunnah Nabi Saw, serta konsensus / ketetapan para Ulama.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” Sebagaimana Allah Swt Berfirman, “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin…”

Dan diriwayatkan pula oleh Mu’awiyah bin haidah ra, aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami kepada suaminya, lalu beliau Saw menjawab, “Berilah mereka makan ketika mereka membutuhkan makan, berikanlah mereka pakaian ketika mereka membutuhkan pakaian, janganlah memperburuk wajah, dan janganlah memukul.” (HR. Abu Daud 244/2, ibnu Majah 1850, dan ahmad 445/4).

Imam Al-Baghawi berkata, “Al-Khitaby berkata, “Didalam hadist ini terdapat kewajiban memberi nafkah (pangan) dan pakaian kepada sang istri, sebatas kemampuan sang suami. Dan ketika Rasulullah Saw menjadikan hal tersebut sebagai hak seorang istri, maka hal tersebut wajib untuk dipenuhi, dan jika sang suami belum sanggup untuk memenuhinya pada saat itu, maka hal tersebut dihitung sebagai hutang yang harus ditunaikan, sebagaimana hak-hak wajib lainnya.

Dari Wahab ia berkata, “Salah seorang budak Abdullah bin ‘Amru berkata kepadanya, “Aku ingin menetap bulan ini disini, di Baitul Maqdis.” Kemudian Abdullah menjawab, “Apakah engkau telah meninggalkan apa yang mencukupi keluargamu?.” Ia menjawab, “Tidak.” Maka Abdullah berkata kepadanya, “Kembalilah kepada keluargamu, lalu tinggalkanlah apa yang mencukupi mereka. Karena sesungguhnya aku telah mendengar, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Cukup besar dosa seseorang jika ia meninggalkan siapa yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad 160/2, dan Abu Daud 1692). Dan didalam kitab shahih Muslim 245 tercatat dengan redaksi, “Cukup besar dosa seseorang yang menyia-nyiakan orang yang harus dinafkahinya.”

Dan dari Anas Ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt akan menanyakan setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya. Apakah ia menjaga hal tersebut atau malah menghilangkannya. Sampai kepada menanyakan (Tanggung jawab) laki-laki atas keluarganya.” (HR. ibnu Hibban dan ia menghasankannya didalam kitab Shahih Al-Jami’ 1774).

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, aku telah mendengar bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, jika salah seorang dari kamu pergi pada siang hari untuk mencari kayu kemudian dia pikul diatas pundaknya, kemudian dia menjualnya dan merasa cukup dengan hasil penjualan itu, kemudian dia bersedekah dengannya maka ini adalah lebih baik daripada dia mendatangi seseorang kemudian meminta sesuatu kepadanya, baik diberi ataupun tidak. Begitulah tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” ( HR. Muslim 96/3. Dan Ahmad 524/2 dikatakan, siapakah yang harus aku nafkahi wahai rasulullah? Rasulullah menjawab, “istrimu adalah termasuk orang yang harus kamu nafkahi).

Jika berlandaskan Ijma’ (Konsensus/kesepakatan) para Ulama:
Imam Al-Muwaffaq bin Qudamah rahimahullah berkata didalam kitab Al-Mughni, “Para ulama telah bersepakat atas diwajibkannya pemberian nafkah bagi para istri oleh suami-suami mereka, jika para suami tersebut adalah orang yang telah mampu. Kecuali wanita-wanita yang ingkar kepada suami mereka,” sebagaimana disebutkan oleh ibnu Mundzir dan ulama-ulama selainnya.

Apa yang telah dijelaskan sebelumnya, tentu sudah menjelaskan akan kewajiban para suami untuk menafkahi siapa yang ada didalam tanggung jawabnya, dan memfasilitasi kebutuhan, serta memimpin mereka. Sebagaimana keberadaan hadist-hadist Rasulullah Saw yang banyak jumlahnya, makin menegaskan bahwasannya hal ini adalah sebuah ibadah utama dihadapan Allah Swt. Sebagaimana diriwayatkan didalam hadist ibnu Mas’ud Al-Anshari ra, bahwasannya Nabi Saw bersabda, “Jika seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya, dan dia berniat maka nafkah itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR.Bukhari 136/1).

Imam ibnu Hajar Al-Atsqalani ra mengatakan didalam kitab Fathul bari 498/9, ”Nafkah kepada keluarga hukumnya adalah wajib, sebagaimana kesepakatan pada Ulama. Mengapa Allah menamakannya sebagai sedekah? Karena dikhawatirkan akan timbul tendensi bahwasannya segala hal wajib yang mereka tunaikan tersebut tidak mendapatkan ganjaran/pahala. Telah dijelaskankan kepada mereka tentang ganjaran dan balasan dari bersedekah. Bagaimana wajibnya mereka untuk menafkahi keluarganya, sampai-sampai mereka tidak boleh bersedekah kepada selain keluarganya, sehingga nafkah keluarganya tersebut telah terpenuhi. Sebagai penegas bagi kaum lelaki, bahwa mereka harus mendahulukan sedekah yang wajib (nafkah kepada keluarga), dari yang sunnah.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’ad bin Malik Ra, dari Nabi Saw bahwasannya beliau berkata kepada Sa’ad, “Nafkah apapun yang kamu berikan kepada keluargamu maka kamu akan tetap mendapat pahala, bahkan sesuap nasi yang kamu angkat kepada mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhari 164/3 dan Muslim 1628).

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwasannya Nabi Saw bersabda, “Di antara Uang sedinar yang engkau nafkahkan dijalan Allah, uang sedinar yang engkau gunakan untuk membebaskan budak, uang sedinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin dan uang sedinar yang engkau berikan kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah uang sedinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim 692/2).

Diriwayatkan oleh Ka’ab bin ‘ujrah Ra, ia berkata, “Suatu ketika ada seorang lelaki menghampiri Nabi Saw, dia memberikan kesan kepada para sahabat akan kerajinan dan keuletannya, mereka berkata “wahai Rasulullah! Apakah ini termasuk dijalan Allah? Kemudian Rasulullah menjawab, “Jika dia berusaha untuk anak-anaknya yang masih kecil maka termasuk dijalan Allah, jika dia berusaha untuk mencukupi kehidupan orang tua yang sudah tua, maka termasuk dijalan Allah, jika dia berusaha agar tidak meminta maka juga termasuk dijalan Allah, namun apabila dia berusaha itu atas dasar pamer dan kebanggan maka dia adalah dijalan syaitan.” (HR.Thabrani, Ash-Shahih Al-Jami’).

Sebagaimana telah dipahami oleh para Ulama terdahulu, bahwasannya hal ini adalah wajib hukumnya. Sebagaimana yang telah mereka contohkan kepada kita. Sungguh sangat istimewa perkataan imam Ar-Rabbani Abdullah bin AL-Mubarak Ra, beliau berkata, “Sebuah usaha sesungguhnya tidak memperoleh apapun, kecuali dengan niat berjihad dijalan Allah.” (Kitab As-Sair, 399/8).

Dan dari sisi yang lain, seorang istri hendaklah mengetahui, bahwasannya nafkah yang dikeluarkan oleh suami adalah sesuai dengan kesanggupannya dalam memberikan nafkah berupa materi. Sebagaimana Firman Allah Swt, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” Dengan demikian jelaslah bahwa seorang istri hendaknya tidak menyusahkan suaminya dengan permintaannya yang berlebihan, dan keluar dari kemampuan suaminya itu, karena hal tersebut adalah perbuatan yang tercela.

Allah Swt pun mengingatkan kepada kita, untuk tidak memboroskan dalam mengeluarkan nafkah. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Maka sudah sepantasnya bagi seorang istri yang baik, untuk mengatur pengeluaran harta suaminya, dan berhematlah sesuai dengan kebutuhan, dengan memperhatikan dan tidak menyepelakan kebutuhan sang istri, karena hal tersebut dapat membawa kepada ketidakharmonisan sebuah keluarga.

Begitupula hendaknya sang suami tidak pelit dalam menafkahi istrinya, jika memang dibukakan rejekinya oleh Allah Swt. Dan hendaknya tidak pelit untuk membelikan istrinya apa yang ia sukai dari teman-teman wanitanya, baik dengan perhiasan, pakaian mereka, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya dengan melihat kondisi keuangan yang memadai, serta tanpa disertai dengan ejekan ataupun cercaan.

Sebagaimana firman Allah Swt didalam Al-Qur’an, bahwa perkataan, maupun janji yang baik, dapat mengurangi segala bentuk kecenderungan negatif dalam permasalahan seperti ini. Allah Swt berfirman, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.” (Al-Israa’:18). Ibnu Katsir Ra berkata dalam penafsiran ayat ini, “sesungguhnya kalimat “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan,” maksudnya adalah, jika karib kerabatmu ataupun temanmu meminta kepadamu sesuatu, sedangkan kamu tidak memilikinya, “maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas,” atau berjanjilah kepada mereka dengan cara yang baik dan lembut, seperti mengatakan, “Jika Allah melapangkan rizkiku, maka aku akan mengabulkan permintaan kalian.”

Dan hendaknya kedua belah suami istri saling menjaga adab dan akhlak mereka, dan selalu bersama kendatipun dalam keadaan yang sangat sulit. Hendaknya mereka selalu bersabar dan tidak lalai dalam berbuat baik.

Wallahu a’lam w ahkam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s