Sejarah Singkat Masuknya Islam ke Nusantara, dan Sejarah Pergerakan Pemuda Indonesia Bag. I

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf  Lc.

Prolog

Dunia Islam muncul setelah perang dunia I dengan tertatih-tatih dengan sebagian besar jantung negara-negaranya diduduki, institusi-institusi dihancurkan, dan masa depan politis mereka suram ditangan hegemoni kolonialisme ;yang berujung kepada neokolonialisme; Eropa. Sementara sejarah dunia islam sebelum perang dunia I  adalah cerminan dari persoalan intern mereka sendiri. Keengganan bangsa arab dan keinginan mereka untuk bebas dari Turki Ottoman yang tidak berhasil membawa Islam sebagai faktor penentu pada Perang Dunia I serta konfrontasi antara Eropa dan orang-orang sipil (Colonized people) dari bangsa Afro-Asia setelah Perang Dunia I adalah beberapa isu yang menyebabkan Pemerintahan Islam lumpuh. Butuh dua Perang Dunia untuk sekedar melonggarkan cengraman hegemoni Eropa (European Stranglehold) yang mencekik wilayah Afro-Asia.

Ini adalah kisah Indonesia. Ini adalah cerita dari sebuah dialektika antara Nasionalisme, Islam, dan Komunisme yang dimainkan melawan latar belakang kekejaman penjajahan Belanda sebelum Perang Dunia II, keniscayaan Perang Dingin antara Amerika dan Unisoviet setelah Perang dunia, dan tekanan yang tiada henti (relentless pressures) dari hegemoni Amerika setelah berakhirnya Perang Dingin. Selama Empat Ratus Tahun sejarah Afro-Asia terikat erat dengan Sejarah Eropa. Naik di penguasaan lautan, Eropa menyentuh jauh penjuru bumi, selain isu agama, pertama untuk mencari persemakmuran dan perdagangan, kemudian untuk mendominasi dan menjajah dunia. Peradaban kuno di benua Afro-Asia ditundukkan, sementara Eropa menjadi nyonya dunia. Ini adalah fenomena yang menurut sebagian orang termasuk yang tidak tertanding dalam sejarah manusia modern, sebuah peradaban yang begitu tertinggal dan berada disudut kecil Euroasia sanggup mencengkamkan kuku kekuasaannya hampir keseluruh dunia. Sangat penting mengetahui hal ini sebagai latar belakang sejarah, agar kita sebagai umat Islam khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya mempunyai bingkai sikap yang linear terhadap hegemoni kekuasaan barat saat ini, serta tidak melupakan apa yang menjadi bagian sejarah perjuangan para pendahulu kita.

Eropa dan Kolonialisme Global (Bag. I)

Munculnya colossus  Eropa ini terjadi secara bertahap. Beberapa list yang mendorong dalam kebangkitan ini adalah kejatuhan Granada (1492), ‘ditemukannya’ Amerika (1492), penemuan rute laut ke India sekitar Tanduk Afrika (1496), mulai dikenalnya percetakan dan media (1526), Reformasi Protestan (1517-1540), pertempuran Lepanto (1572), pertempuran al Qasr al Kabir (1578), hancurnya armada Spanyol (1588), pembentukan perusahaan saham gabungan oleh para juggernaut  Eropa (1600-1602), kegagalan pengepungan kedua Turki atas Vienna (1683), ledakan politik di India (1707-1762), pertempuran Plassey (1757) dan revolusi industri (1758-1812).

Baik untuk diketahui, bahwa awal motivasi dari ekspansi Eropa adalah penyebaran agama (Gospel). Setelah penaklukan Granada (1492), Perang Salib tumpah ke Afrika Utara dan seterusnya. Perlunya menghindari konflik dengan Muslim Maroko membuat Kekuatan marinir Kristen Spanyol dan Portugal untuk terpaksa melanjutkan penjelajahannya ke Samudra Atlantik tanpa ekspansi. Dalam prosesnya, amerika telah ‘ditemukan’ (1492) dan Afrika telah berhasil dijelajahi (1496). Dengan perjanjian Tordisillas, ditengahi oleh Paus Aleksander VI, Spanyol dan Portugal membagi dunia untuk kemudian dieksplorasi, ditaklukkan dan dikonversi menjadi pemeluk agama nasrani (gospel). Di tahun 1496 Vasco de Gama berlayar ke pantai timur Afrika dan dengan bantuan seorang navigator Muslim, Ahmad Ibn Majid, sampai ke pantai barat India. Ia kembali sepuluh tahun kemudian, dan dengan bantuan kekuatan armada laut, Da gama pun berhasil bertolak dari Shofala di Afrika Selatan ke Cochin di India.

Angkatan Laut saat itu merupakan teknologi yang menghantarkan Eropa kepada keniscayaan untuk menjejaskan kaki-kaki kuasanya atas Samudera Hindia. Portugis berhasil mengestabilisasikan serangkaian koloni sepanjang negara-negara serikat di pesisir Samudra Hindia. Pos-pos utama adalah Shofala di Afrika Timur, Hermuz di Persia, Goa dan Cochin di India, Malaka di Malaysia dan Kanton di Cina. Berkembangnya perdagangan di Samudera Hindia, sampai sekarang terbuka untuk semua bangsa-bangsa Serikat pesisir di Samudra Hindia, akhirnya berada di tangan orang Eropa. Kekuasaan darat Asia menyerah kepada kekuatan laut Eropa yang menengadahkan kesombongan sikap mereka terhadap para pelaut dan trader dari negeri asing. Dengan hilangnya kontrol perdagangan kepada Eropa, kemakmuran Asia menyusut. Eropa diperluas sementara Asia menjadi layu.

Menjelang akhir abad ke-16, kekuasaan politik bergeser dari Spanyol dan Portugal ke Belanda, Inggris dan Perancis. Motif hegemoni berubah dari agama untuk keuntungan. Belanda menggantikan Portugis di Samudera Hindia dan memegang kekuasaan atas perdagangan jalur timur pada paruh pertama abad ke-17. Namun, sumber daya yang lebih unggul memungkinkan Prancis dan Inggris untuk menggantikan Belanda dan bersaing untuk meraih supremasi di Asia, kompetisi di mana Inggris muncul sebagai pemenang. Kolonisasi Asia dimulai dengan kompetisi untuk memonopoli rute perdagangan dan berakhir dengan mengiris gumpalan kekuasaan kolonial yang mencerminkan diversifikasi antara kekuatan Eropa.

Periode Nusantara (Bag. I); proses masuknya agama-agama ‘baru’.

Dengan peregangan lebih dari 3000 mil laut, Nusantara adalah kumpulan dari bangsa-bangsa dan menempati hampir lebih dari 12.000 pulau. Kekayaan sumber daya merepresentasikan pulau Sumatera, sebagai yang terbesar dalam perdagangan dan membentang sepanjang Teluk strategis Malaka, juga sebagai jalur laut dari India ke Cina. Beberapa kepulauan di Nusantara sangat kecil yang hanya merupakan batu menjorok yang keluar dari laut. Setiap Kepulauan yang lebih besar memiliki budaya yang kaya.  Bersama sejarah yang lebih dari dua ribu tahun, budaya Melayu yang menyeluruh menyatukan Nusantara menjadi komposisi mozaik yang diwariskan bersama oleh para rakyatnya.

Geografi dan geologi ‘mendikte’ sejarah Indonesia. Nusantara yang terhampar panjang langsung terhubung dengan laut dan secara pasti menjadi saluran untuk transportasi dan perdagangan yang membuat penduduknya diakui sebagai salah satu bangsa yang paling maritim di dunia. Dari zaman dahulu kapal-kapal Nusantara berlayar mengarungi perairan Samudra Hindia dan berhasil mencapai Mozambik serta pantai timur Afrika. Secara geologis indonesia berada pada sebuah garis besar (The great Fault line) yang memisahkan Lempeng Pasifik dari India dan Indo-Cina yang berbenturan dengan pantai barat Jawa dan Sumatera. Hal ini secara negatif memiliki potensi kuat  sebagai salah satu sebab laten bencana alam dengan gempa bumi dan tsunami. Positifnya bahwa kumpulan kepulauan khatulistiwa ini diberkati dengan limpahan hujan dan matahari, iklim yang kondusif untuk budidaya rempah-rempah. Alam yang melimpah telah membuat Indonesia ibarat seseorang yang mendapatkan abundansi berkah dan rahmat dari Pencipta-Nya.

Pada prosesnya, Kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara naik dan turun dari singgasananya, merupakan estafet periodik dan bagian dari sunnatullah bagi setiap kerajaan di muka bumi ini. Silih berganti kerajaan-kerajaan tersebut menyatukan dan membagi bangsa pulau-pulau ini hingga dataran jauh. Kerajaan Sriwijaya yang berkembang di Sumatera dari abad ke-4 hingga abad ke-14 dan kadang-kadang mengontrol bagian Jawa dan Malaya. Kerajaan kuat Majapahit mendominasi pulau-pulau dari abad ke-13 hingga abad ke-16 dari pusat Jawa bagian Timur dan melalui perdagangan dan pakta perjanjian politis, hingga pengaruh kerajaan inipun bisa dirasakan seluruh Asia Tenggara.

Transaksi Perdagangan (Trading) dengan India dan Cina oleh kerajaan-kerajaan Nusantara membawa pengaruh budaya, agama dan militer. Pada zaman kuno, Hindu dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari pesisir timur India dengan pengaruh agama yang dominan hingga abad ke-4 SM, pengaruh Hindu meresap pada masa tersebut. Pada abad ke-4 SM, Kaisar Asoka yang memerintah di India merangkul ajaran Buddha. Melalui perlindungannya, Buddhisme  melakukan perjalanan ke Sri Lanka dan Nusantara. Hal ini adalah salah satu dari pengaruh eksternal yang membentuk penyesuaian Budisme kepada miliu kultur lokal. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang mendominasi Kepulauan berafiliasi kepada Hindu-Budha dan mengenakan keduanya sebagai seragam keagamaan mereka, tetapi oleh mereka budaya lokal dan hasil akulturasi dengan hinduisme di Nusantara tetap dibiarkan dan mendapatkan tempatnya yang layak. Hal ini menarik untuk digarisbawahi bersama ;suka atau tidak; bahwa dalam prosesnya agama-agama selalu memperhatikan kultur dan berkembang meresap kedalamnya seiring berjalannya zaman, termasuk Islam.

Islam tiba di Nusantara pada abad ke-8 Masehi yang dibawa para pedagang dari Yaman dan Persia. Namun, pengaruh awal ‘kepercayaan baru’ ini terbatas kepada beberapa pos perdagangan pada jalur laut yang menghubungkan India dan Cina. Masuknya Islam ke pedalaman Nusantara dapat dirunut dari abad ke-12. Ini adalah periode meledaknya pertumbuhan keimanan terhadap ajaran Islam di Asia dan Afrika. Para ulama Islam, melintasi Nusantara dan menyebarkan Islam pada awalnya lebih melalui nilai-nilai asketika dan moral, yang secara bertahap tapi berangsur pasti menggantikan posisi kepercayaan Buddha dan Hindu. Penting untuk dicatat bahwa pertumbuhan Islam di Nusantara awalnya bukanlah hasil konversi raja dan bangsawan kepada Islam ataupun invasi militer, akan tetapi diawali perubahan dalam kepercayaan orang-orang grass root. Adapun para raja dan bangsawan akhirnya memeluk Islam hanya setelah sebagian besar ‘konstituen’ mereka telah memeluk kepercayaan baru ini. Pengaruh Islam secara gradual  melelehkan dirinya dan meresap ke dalam lingkungan budaya yang lebih tua dari Kepulauan Nusantara. Menyerupai penetrasi Hinduisme dan Buddhisme sebelumnya, orang-orang dari Nusantara mempertahankan bahasa dan budaya mereka, Namun ‘kepercayaan baru’ ini (baca: Islam) perlahan mengokohkan dirinya hingga berangsur ‘membudaya’ dan menjadi tuntunan radian bagi kehidupan mereka.

Letak geografis menempatkan Nusantara ditengah arus silang ambisi politik dan militer dari Dinasti kuat yang ada di India dan Cina. Di abad ke-12, raja Chola dari Tenggara India meluncurkan serangkaian serangan ke Sumatera dan mengontrol garis pantai Sumatera dan Malaya. Di abad ke-13, Kaisar Yuan Kublai Khan (W 1294) mengirimkan ekspedisi untuk mengintervensi distabilitas politik internal Jawa. Di abad ke-15, Laksamana Cina Zeng Yi (W 1433), juga dikenal sebagai Laksamana Ho, membuat tujuh pelayaran ke Samudera Hindia dan membawa armada kapal-kapal besar ke pantai Jawa dan Sumatra. Beberapa sejarawan mengemukakan bahwa kehadiran Muslim Cina di Selat Malaka pertama kalinya, adalah bertepatan dengan kunjungan armada Laksamana Ho (1404-1432). Pengaruh kekuatan marinir Cina akhirnya menghilang di paruh kedua abad ke-15, karena Keaisaran Yuan menggeserkan sumber daya mereka dari ekspedisi lautan kepada isu-isu darat dan pertahanan wilayah kekuasaan mereka dari seteru mereka, mongol.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s