Al-ghazali dan Tashawwuf; oase di kegersangan jiwa.

Oleh : Geys Abdurrahman Assegaf  Lc.

prolog

Pada masa dimana Abu Hamid Al-Ghazali hidup, dunia Islam masih berkolidasi dengan berbagi bentuk budaya, kebudayaan Yunani pra-Islam dengan model pemikiran mistik pola rasionalitas iman Kristiani, Neo-Platonisme yang muncul pada abad ke-3 M yang berpengaruh besar terhadap pemikiran Islam. Demikian juga didalam sufisme, pengaruh filsafat Persia dan filsafat India sangat mewarnai corak asketika sufistik yang ada. Pengaruh terbesar adalah pada kepercayaan-kepercayaan Syi’ah ekstrim menyangkut “penganugrahan” hak ketuhanan, hulul-nya Tuhan kedalam tubuh para Imam, ittihad, serta pelbagai pola pemikiran sufistik yang menjalar pada saat itu. Latar belakang ideologi dan politik telah menghantarkan al-Ghazali dan corak pemikirannya kedalam ranah peperangan dan perhelatan pemikiran islam pada masa klasik. Masa keraguan dan proses maturitas keilmuan yang dirasakan oleh Al-ghazali serta masa transisi yang dialami olehnya dalam pencarian kebenaran hakiki benar-benar menghantarkan al-ghazali kepada titik final dalam hidupnya. Beliau menjauhi kehidupan duniawi, melakukan khulwat, kontemplasi dan pencarian entitas kebenaran yang mampu meredam gejolak yang ia rasakan didalam hatinya. Setelah melalui proses yang cukup panjang. Akhirnya sampailah al-ghazali kepada dunia yang menengkan jiwa, menata hati, dan lebih mendekatkan dirinya kepada sang pencipta, sebuah dunia yang lebih dikenal dengan terma tashawwuf.

Dataran tinggi kehidupan Al-ghazali

Al-ghazali terpacu untuk meninggalkan Baghdad, yang selama ini telah menyibukkan dirinya. Bergelimang kekayaan dan ketenaran duniawi membuatnya tak tentu arah dan telah memalingkan dirinya dari panggilan keimanan. Dirinya selalu gelisah dan dihantui oleh perasaan bersalah terhadap jiwanya. Kolidasi antara keraguan dari dialektika keilmuan seorang Ulama sekaliber Abu Hamid adalah sesuatu yang sangat niscaya sekali. Inilah titik dimana ia membuka mata hatinya kepada tashawwuf dan pensucian jiwa. Pada akhir tahun 488 H Al-ghazali meninggalkan Baghdad menuju Syam, karena memungkinkan baginya untuk berkhulwah, guna membentuk manhaj tashawwuf dan mengaplikasikannya kedalam setiap pori-pori kehidupan. Disana beliau menetap selama dua tahun. Berkonsentrasi dengan meditasi beliau, ‘uzlah, khulwah, riyadhah, mujahadah, pensucian jiwa, penataan akhlaq, dan pembersihan hati semata-mata untuk berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Beliau beri’tikaf di masjid Dimasyq dan naik ke menara masjid pada siang hari, disinilah beliau mulai merasakan keindahan bertashawwuf.

Dan dalam kurun waktu sepuluh tahun, beliau menetap di Bait al-maqdis, hijaz, dan thus. Dan dalam kurun waktu ini, yaitu masa-masa ber’uzlah dan khulwah, beliau menemukan ketenangan yang tidak hanya meredam keraguan jiwanya, bahkan menghilangkan gejolak hatinya yang telah sekian lamanya mengendap. Seperti orang-orang terdekat beliau, akhirnya Al-ghazali berpegang teguh kepada jalan tashawwuf, dan setelah melalui proses pencarian yang cukup panjang, beliau menyadari, bahwa jalan ini adalah jalan kebenaran. Ia tak lagi mencari-cari, sebagaimana yang telah ia lakukan jauh sebelumnya, karena semuanya ada didalam tashawwuf itu sendiri. Memang, ketika dirinya menjajaki dunia filsafat, ia banyak memperoleh kesulitan dan kerancuan didalamnya. Dari beberapa permasalahan yang ia kemukakan ( 3 diantaranya mengafirkan beberapa filosof muslim ), benar-benar memercikkan api perseteruan pemikiran. Tak jarang ia di cap tidak mengerti filsafat, atau haus akan harta benda. Dan lantaran hal ini, ia pun berpaling dari ilmu-ilmu yang selama ini ia tekuni. Selaras dengan ibnu tufail, De boer sendiri mengatakan bahwa apa yang telah dilalui oleh Al-ghazali pada masa ketika beliau berfilsafat, adalah sebuah masa keraguan, dan tidak dapat dijadikan landasan epistemologi secara mutlak benar. Karena pada masa itu Al-ghazali tidak benar-benar dalam cruise control dan kestabilan jiwa. Maka ketika masa-masa dimana ketenangan hati telah singgah, beliau merasakan kebenaran tertinggi, kebenaran yang selama ini ia cari.

Al-Ghazali dikelilingi oleh para sufi yang padahal bersentuhan langsung dengan kehidupannya. Ia memiliki seorang ayah, guru-guru, paman, adik mutashawwif. Bahkan nizhamul muluk yang disinyalir seorang mustashawwif. Al-ghazali telah melalaikan hal yang sebenarnya amat penting, yang sedari awal sudah seharusnya ia sadari tentang hal ini, Mcdonald ;seorang orientalis berpendapat, sebenarnya Al-ghazali bukannya tidak menyadari hal tersebut, akan tetapi karena pada saat itu dirinya masih menganggap tashawwuf sebagai sesuatu yang bertentangan dengan syari’at dan beliau sendiri masih berkecimpung didalam dunia pemikiran yang menuntut kegigihan nalar dan eksperimen. Akan tetapi setelah melihat realita yang ada dan proses yang cukup panjang, beliau menyadari adanya ketenangan didalam tashawwuf. Dan dengan keselarasan antara syari’at dan tashawwuf, sirnalah keraguannya, bahkan menjadi seorang sufi yang tidak hanya disegani dan dihormati oleh kalangan umat islam sunni saja, melainkan juga beragam aliran dan golongan islam yang ada.

Setelah sekian lama meninggalkan kampung halamannya, Al-ghazali memutuskan untuk kembali ke nisapur. Apalagi setelah melihat kerusakan merajalela dan penyimpangan aqidah yang semakin gencar, Jiwanya terpanggil untuk keluar dari ‘uzlahnya guna meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut. Ia pun kembali ke nisapur untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang telah ia miliki disana. Dan untuk kedua kalinya beliau kembali ke sekolah nisapur, setelah apa yang beliau raih dari sang guru, imam haramain pada kali pertama. Beliau berkata “ bahwasannya aku kembali untuk menyiarkan agama, lalu apakah aku kembali? Sedangkan kembali adalah berpulang terhadap yang lalu. Dan apa yang aku lalui pada masa silam bukanlah apa-apa melaikan untuk mencari penghidupan. Dan aku melakukannya dengan perkataanku dan amalku, dan itulah yang dahulu pernah menjadi maksud dan niatanku. Tetapi sekarang aku tidak melakukan kesemuanya karena penghidupan. Sesungguhnya inilah maksud dan niatanku. Dan Allah ‘azza wa jalla mengetahuinya dariku”

Kemudian Al-ghazali kembali ke Thus setelah ia cukup lama ia berdiam dinisapur. Kedatangan beliau pun mengundang para ahli fiqih untuk berdialog dengan beliau, sebagaimana beliau juga menjadi pusat rotasi kaum sufi yang ada disana. Dan akhirnya pada tanggal 14 jumadi al-awwal tahun 505 H beliau berpulang keharibaan Allah ‘azza wa jalla, dengan didampingi oleh adiknya Ahmad disisnya. Beliau dikebumikan di pemakaman Thabran berdekatan dengan makam pujangga kenamaaan, Al-firdausi. Ketenangan dan ketentraman batin yang ia rasakan, tidaklah kurang dari pengembaraannya mencari oase untuk mengobati dahaga jiwanya yang haus akan kedamaian. Beliau yang hidupnya selalu berkolidasi dengan dunia pemikiran dan materi duniawi, akhirnya menemukan kebenaran yang hakiki, perasaan yang abadi yang selama ini sangat beliau dambakan. Sebuah jalan yang mengembalikan manusia kepada kesuciannya, fitrah kesadaran terhadap entitas yang maha tinggi, Al-mustahiqq lil ‘ibadah, Allah ‘azza wa jalla.

Sang hujjatul islam Al-ghazali merefleksikan tashawwuf sebagai pancaran ketuhanan yang menyentuh pori-pori kehidupan manusia. Hidup yang selalu dibasuh dengan dzikirullah, tak pernah lepas dari kenikmatan beribadah dan memuja diri-Nya yang maha sempurna. Berdzikirlah dengan kekhusyu’an hati, maka ketika lidahmu sudah terasa lelah berdzikir, untaian kalimat-kalimat ilahiyah akan tetap terasa mengalir melalui lidahmu, itulah makna hakiki yang terus terdetak didalam hatimu walaupun lisanmu tak bergerak, begitulah sang imam bertutur, bahwa hati adalah tempat kembali dari segala amal ibadah manusia.

Al-ghazali; An ideology world tour.

A. Ana al-haqq , the spiritual reflection.

Akhir abad ketiga hijriyah menurut Alfred V. Kremer adalah satu titik tolak dimana dunia ke-sufi-an mengalami pergolakan. para sufi banyak melakukan meditasi yang terpusat pada esensi ketuhanan. Kontemplasi, pertapaan, pensucian jiwa yang menjanjikan pencerahan dan penyegaran pun dilakukan guna menguak hakikat hubungan antara hamba ( manusia ) dengan Tuhannya. Dan orang yang pertama kali berhasil dalam pengolahan dan perumusan hal ini adalah abu mansur al-hallaj. Beliau adalah peletak batu pertama tashawwuf falsafi. Sebagaimana disinyalir bahwa dunia tashawwuf islam pada masa sebelum beliau, jauh daripada olah fikir semacam ini. Hal ini disebabkan karena masuknya nilai-nilai peradaban diluar islam dan arab. Pengaruh serta efek dari kebudayaan Persia yang berkaitan erat dengan liuk ideologi syi’ah – seperti al-a’immah al-ma’shumin yang mereka anggap sebagai khulafa’ fi al-ardh – menyebabkan para imam dan mursyid pun dikultuskan, mereka menjelma menjadi some supernatural agency with an extraordinary event attributed yang dapat melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan manusia. kebenaran para imam dijustifikasi hanya dengan menggunakan neraca parameter amr khawariq li al-adah. Ajaran-ajaran yang tashawwuf yang dianut oleh Dzunun al-mishry, Abu yazid al busthami, Al-hallaj dan aliran tashawwuf yang dipandang ekstrim oleh sebagian kalangan dianggap beresiko terhadap kepercayaan seseorang. Kemunculan para sufi ini telah menimbulkan perdebatan sengit karena mereka dituduh mengabaikan syari’at dan cenderung kepada kesyirikan. Ketidak hati-hatian dalam beranggapan dan penjustfikasian selalu saja menjadi petaka. Kekhawatiran pemerintah pada masa itu terhadap pemikiran sufistik abu Mansur yang dianggap sesat dan menyesatkan, Fault of thinking and view of ideology and politic, adalah sebuah fakta yang pada akhirnya menghantarkan seorang sufi besar menuju perjumpaannya dengan alam supra-materi. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Selaras dengan ibnu qayyim al-jauzy dan imam Al-qusyairy, al-Ghazali bersikap sangat keras terhadap hal tersebut. Beliau sangat menyayangkan pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa jika seseorang sudah mencapai derajat tertentu dari ma’rifat, maka secara otomatis dirinya terlepas dari pelaksanaan dan taklif syar’iy. Bahkan, abu yazid al-busthami –sahib syatahah “subhani”- mencirikan bahwa seseorang yang ‘ memiliki ‘ ke-wali-an, kezuhudan, dan karomah sudah seharusnya menjaga adab dan akhlaq sebagaimana Sayyidina Rasulillah Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Amr ma’ruf nahyi munkar, dan tidak melalaikan syariat. ia menjauhkan diri dari ma’ashi, selalu me-lazim-kan taubat. Bahkan extreemely, al-Junaid mengatakan bahwa pencuri dan pezina adalah lebih baik ketimbang siapa yang menganggap bahwa para ahl al-ma’rifat dapat sholat tanpa melakukan gerakan adalah karena kebaikan dan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Bagi seorang ‘arif, adalah sebuah kemustahilan bahwa dirinya merasa dapat ataupun telah mengetahui dzat Tuhan, apalagi sampai mengatakan bahwa tuhan telah bersatu ataupun bersemayam didalam dirinya. Dan jikalau saja mukasyafah adalah capaian terlezat bagi seorang sufi, maka sekalipun tidaklah ia dapat menyingkap tirai ilahi secara keseluruhan. Jika seseorang telah tenggelam begitu dalam akan sebuah hal, maka ia akan melupakan hal apapun selain itu. Maka menurut al-Ghazali, ketika Al-Hallaj mengatakan “ana al-haq”, sah-sah saja. Sebab ia tidak mengatakannya secara letterleijk, karena ia dalam keadaan ‘ tidak sadar ‘. Syatahat ash-shufiyah menurut pemahaman Al-ghazali tidak lebih daripada prasangka ataupun iritasi semata.. Oleh karena itu Bukan sebuah kebenaran yang hakiki dan patut diimani. Lebih lanjut al-Ghazali menegaskan, menitisnya tuhan kedalam tubuh manusia, berasal dari aliran pemikiran kristiani. Manusia menitis kepada manusia adalah sebuah logika berfikir yang absurd, Kendatipun manusia memiliki dzat dan sifat yang sama (an-nasut). Jika hal ini adalah sebuah ‘lelucon’, apalagi menganalogikan bersemayamnya Allah beserta sisi ketuhanan-Nya (al-lahut) kedalam diri manusia.
Upaya penyelarasan.

“Ana al-haq” al-Hallaj, ‘subhani, subhani, subhani ma a’dzama sya’ni’ Abu Yazid al-Busthami ataupun ‘ ana hiya ‘ yang dilontarkan oleh Abu al-Faridh bukanlah sebagai pengakuan ketuhanan (self-divine), akan tetapi merupakan syatahat ash-shufiah yang melukiskan kenikmatan serta pancaran kebenaran yang terintisari dari musyahadah. Karena seorang sufi tidak akan mengatakan dirinya ‘bersatu dengan tuhan’, al-ittihad secara letterleijk atau inkarnasi tuhan (at-tajsid) kedalam dirinya, Karena Allah secara dzat dan sifat berbeda dengan makhluk.
Didalam surat ali-‘imran ayat 49 Allah swt berfirman yang artinya : “Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan Aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman” . Pada permulaan ayat Nabi isa as. menegaskan bahwa dirinya adalah pencipta. Akan tetapi nabi isa bukanlah Allah. Karena kehendak Allah mendahului kehendak Isa ketika menciptakan dan menyembuhkan penyakit (masbuq). Segala sesuatu memiliki ahadiyah atau karakteristik yang membedakan antara satu dengan selainnya. Jika manusia memiliki sidik jari (bashomah) Tak terkecuali, Tuhan pun mempunyai ahadiyah.

Karakteristik ketuhanan, dapat dipahami dengan muqtadhayah al-uluhiyah :
1. Ad-dzatiyah (tidak ada yang mengajarkan). Nabi ‘isa ‘alaihissalam memang mampu untuk menciptakan burung dan menyembuhkan penyakit. Orang Kristen melakukan kesalahan ketika menjustifikasi bahwa beliau adalah Tuhan., karena beliau ada yang mengajarkan yaitu Allah swt.
2. As-Sarmadiyah (tak terkekang waktu / timeless). Nabi ‘isa memang mampu untuk menciptakan. Tetapi sayangnya beliau terikat oleh waktu. Maka beliau bukanlah seorang Tuhan.
3. As-Sabaq (penyebab paling pertama). Seperti telah dijelaskan bahwa kehendak nabi isa telah didahului oleh kehendak yang paling pertama.
4. Al-Ithlaq (gerak dan kehendak yang maha tidak tebatas/ unlimited move and will). Keterbatasan kemampuan nabi isa untuk menciptakan dan menyembuhkan adalah bukti ketidak-tuhanan beliau. setiap kali akan makan saya tidak akan pernah mampu untuk selalu mengecek apakah makanan saya terbebas dari racun. Maka disini kita dapat melihat, bahwa keterbatasan manusia adalah sebuah realita rasionalitas.

Memahami fenomena syatahat ash-shufiyah milik Abu Mansur Al-Hallaj (ana al-haqq) dengan pendekatan ini , maka akan tampak sisi rasional daripada manusia. Bahwa beliau belajar, terkekang waktu, terdahului oleh kehendak yang maha berkehendak, dan juga sangat terbatas. Maka sesungguhnya fenomena ana al-haqq dalam pendekatan ini tidak mengindikasikan adanya pengakuan ketuhanan (self-divine) yang menjatuhkan pengucapnya kedalam kekafiran atau bahkan menjerumuskannya ke tiang eksekusi, melainkan sebuah refleksi pengagungan Tuhan (al-haqq) itu sendiri. Wallahu a’lam.

B. Al-farabi and superman.

Hidup pada masa dimana Diskonsersi pemikiran bergolak didalam peradaban islam benar-benar menstimulasi al-farabi untuk menyatuakan epistem yang bertikai pada masa itu. Bersenjatakan ilmu logika, sedikit demi sedikit alfarabi menanamkan pola fakir rasional kedalam masyarakat pada waktu itu. Menurut beliau, krisis metodologi dan diskursus pemikiran akan menghasilkan respon positif apabila diteliti dengan menggunakan sistematika berfikir rasional. Pada awal penelitian dan kajian yang ia lakukan, al-farabi sangat menitikberatkan pada capaian-capaian yang berkaitan dengan logika. Karena menurutnya, logika adalah problems solver yang dapat mengintisarikan permasalahan pemikiran yang berkembang pada saat itu. Menurut al-farabi, akal mampu mengungkap entitas kebenaran dan ia tidak membutuhkan selainnya. Tapi pada akhirnya, al-farabi sampai dalam ranah penalaran ‘lrfani. Yang mana mengakui kebenaran yang berasal dari al-‘aql al-fa’al (jibril). Tapi yang menarik, terdapat entitas disintegrasi penalaran antara nalar ‘irfani milik al-farabi dengan nalar ‘irfani syi’ah dan sufi yang cenderung mendahulukan nalar ‘irfani. Katagori ilham dan entitas pancaran kebenaran menurutnya adalah sebuah tahap akhir dari usaha berfikir dan pergulatan logika. Artinya, seseorang akan mendapatkan ilham dari tuhan, apabila telah melakukan penalaran konsepsional dan validasi atasnya. Harmonisasi antara nalar bayani, burhani dan ‘irfani adalah salah satu keberhasilan al-farabi menciptakan stimulus dalam upaya penyelarasan pergolakan pemikiran yang terus berkembang hingga saat ini.

Al-farabi berpendapat bahwa kenabian adalah diperuntukan bagi mereka yang mempunyai kesucian dan kekuatan jiwa. Dan ia sanggup mencapai realitas pengetahuan tertinggi dan berhubungan dengan al-lauh al-mahfudz atau malaikat untuk kemudian dijabarkan kepada manusia. Ketika berada dalam tatanan ini, al-farabi telah berhasil merasionalkan eksistensi superman dengan logika berfikirnya yang ajaib sekaligus mengkonter pemikiran-pemikiran yang menafikan kebenaran nubuwwah seperti ibnu ruwandi dan zakaria ar-razi yang disebut oleh al-ghazali sebagai zindiqah.

Dalam menjelaskan konsep kenabian, al-Farabi mengkatagorikan revelasi menjadi tiga tingkatan :
1. Hubungan dengan al-aql al-fa’al (jibril) serta mencapai maturitas ilmu yang ada padanya secara langsung tanpa melalui perantara (disclosure of knowledge to humankind by a divine or supernatural agency). Dan inilah tingkat tertinggi dari pada kenabian menurut al-farabi. Dan hal ini tidak akan pernah terjadi kecuali bagi mereka yang sampai kedalam kesempurnaan ruhnya.
2. Yang kedua adalah kontak dengan al-aql al-fa’al melalui perantara/media. Perantara ini berbentuk :
a. Perjumpaan dengan malaikat dalam alam sadar empiris.
b. Perjumpaan dengan malaikat dalam alam sadar visionaris saja. Hal ini terjadi ketika manusia tidak sanggup melihat malaikat secara langsung karena ke-eksesif-annya. Artinya ia tidak mampu untuk menerima pengetahuan secara empiris. Maka memancarlah pengetahuan tersebut pada saat ia tidur. Dan saat terjaga, ia dapat menjelaskan pengetahuan tersebut secara empiris.
3. Abstract visionary. Hal ini terjadi saat sang manusia tertidur. Tetapi ketika terbangun, dirinya tak mampu untuk menceritakan pengalaman supravision nya disebabkan daya ‘pengelihatan’ yang terlalu lemah. Karena itu ia menjelaskannya dengan isyarat dan perlambang.

Pada tingkatan revelasi yang pertama, Disinilah sebenarnya letak pemikiran kontroversial milik al-farabi. Pada titik inilah al-ghazali mengkritisi pemikiran al-farabi dan menganggapnya sebagai saudara sesusuan dengan syi’ah bathiniyyah. Konsepsi kenabian yang dirumuskan oleh al-farabi mengindikasikan bahwa Kenabian seolah sesuatu yang dapat dikejar dan diperoleh. Menurut al-ghazali, Dapat dibayangkan apabila seseorang mempunyai kemampuan untuk melakukan ittishal kapan pun ia inginkan, maka dapat mengakibatkan berakhir kepada pengkultusan, pengakuan kenabian bahkan ketuhanan, dan tentu saja mengakibatkan hilangnya hikmah ar-risalah dan takmil ad-diin. Tetapi sebenarnya, yang dilakukan oleh al-farabi bukanlah sebuah upaya untuk memperkuat ideologi syi’ahnya, melaikan sebuah upaya rasionalitas kenabian. Bahwa Rasulullah saw adalah seorang superman yang mampu mencapai entitas pengetahuan tertinggi ( divine revelation ). Dan apa yang telah dilakukan oleh al-farabi, adalah sebuah inovasi besar bagi khazanah intelektualitas dan semangat harmonisasi pemikiran.

C. Ibnu sina. One Divine for Thousand Revelations.

Perang ideologi antara agama dan filsafat adalah realita sejarah peradaban islam timur. Upaya harmonisasi antara agama dan filsafat yang telah digagas oleh Al-Kindi telah menjelma menjadi grinder and influence bagi para filosof setelahnya. Tema harmonisasi antara agama dan filsafat menjadi sangat menarik dan menggelitik Tak ketinggalan Al-Farabi, Ibnu Sina, dan the great commentator Ibnu Rusyd pun ikut ambil bagian dalam upaya penghijauan ini. Sebenarnya, Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme lah yang memberikan pengaruh terhadap banyak pemikiran para filosof muslim.

Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos “to hen”, yang esa, “the one”. Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang esa adalah pusat daya, — seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya. Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali. Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh St. Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (lumens) dari Allah. Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang tidak lain adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa atau “imago Dei” (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa aliran ini sangat mempengaruhi pola fikir para filosof muslim.

Ibnu sina, senada dengan al farabi, berpandangan bahwa agama hanyalah sebuah analogi dari filsafat yang berguna untuk menjelaskan kebenaran filosofis dengan menggunakan contoh-contoh bahkan dongeng-dongeng. Maka kita dapat melihat bahwasannya posisi filsafat menurut al-farabi ada diatas agama. Karena semua kebenaran hanya dapat dicapai dengan paradigma berfilsafat. Hal senada diutarakan Bertrand russell : “… jawaban-jawaban pasti yang diberikan oleh para teolog tidak sedemikian meyakinkan lagi seperti kelihatannya pada waktu berabad-abad lampau. Memang teologi setiap kali menyatakan dapat memberikan jawaban, yang ternyata terlalu “pasti”. Akan tetapi justru kepastian itulah yang menyebabkan manusia modern menyambut pertanyaan-pertanyaan itu dan upaya untuk mendapatkan jawabannya itulah merupakan tugas dari filsafat.” Akan tetapi hal ini dibantah oleh ibnu rusyd. Menurut one of the most influental phylosophers sekaligus inspirator dari st. Thomas Aquinas dalam penulisan summa theologiae nya ini, agama dan filsafat adalah sebuah entitas kebenaran yang satu. Maka suatu kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran yang lain, justru mengukuhkan dan memperkuat satu sama lain. Pernyataan ini diperkuat oleh fakta dari berbagai penemuan oleh para scientist masa kini. Seperti Alkimia sebagai protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisme, dan agama telah menemukan fakta penciptaan dan eksistensi the great designer yang maha sempurna melalui berbagai sistematika eksperimental yang membuat para atheist kelabakan dan kebakaran jenggot. Lagu lama teori evolusi dan beragam experimen yang mereka lakukan berakhir gagal. Tidak bisa membuktikan, mereka menyimpulkan bahwa fakta keberadaan sel hidup berakhir dengan kata ‘ kemungkinan ‘. Sebut saja occams razor ataupun Bertrand russel dengan tea pot nya. Semua berujung kepada ke-absurd-an dan berakhir dengan keunggulan fakta penciptaan. Hebatnya lagi, seluruh penemuan ilmiah saat ini, benar-benar menjelaskan kemu’jizatan al-qur’an. Al-ghazali pun menimbang dengan neraca akal kendatipun hal tersebut adalah ‘polesan’ ketika sebuah ilmu – khususnya yang bukan dharury- mencapai tahap maturitas yang hakiki.

Hal yang menyebabkan perseteruan pemikiran antara ahlusunnah dan syi’ah, adalah bahwa syi’ah bathiniyyah yang mengekor kepada aliran filsafat yang mengangggap bahwa para imam, filosof, dan para wali sanggup mencapai realitas spiritual yang tertinggi, bahkan dianggap mampu berhubungan dengan jibril (al-aql al-fa’al) ataupun lauh al-mahfudz sebagaimana layaknya para nabi.. Disini terlihat pengadopsian nilai-nilai filsafat neo-platonisme guna menguatkan ideologi yang mereka anut. Maka sebagai seseorang yang beraliran sunni, maka Al-Ghazali merasa sudah saatnya untuk melakukan rekonstruksi terhadap pemikiran syi’ah -khususnya bathiniyyah- yang dianggap telah bersikap ‘nyeleneh‘ terhadap ideologi filosofis negaranya. Melihat perkembangan dinasti fathimiyyah dan Al-azhar yang pada saat itu masih dikuasai oleh aliran syi’ah, menggerakkan al-ghazali untuk melancarkan serangan terhadap ideologi mereka yang meliputi banyak aspek. Jika ia (al-ghazali) dianggap menyumbat progressifitas berfikir banyak kalangan. Maka sudah seharusnya syi’ah bathiniyyah mendapat sorotan lebih besar karena merekalah yang sesungguhnya menutup pintu ijtihad dengan menyumbat keprogresifitasan akal. Tapi sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa apa yang dilakukan al-ghazali adalah usaha penyelamatan ideologi diri dan negaranya. Karena ideologi-ideologi syi’ah bathiniyyah sangat bertentangan dengan akidah kaum sunni.

Al-ghazali disini tidak memungkiri adanya ke-wujub-an sosok khalifah/imam bagi ummat islam. Akan tetapi yang menjadi parameter justifikasinya bukanlah akal melainkan neraca syari’at. Karena sesuatu yang wajib menurut beliau adalah “ segala sesuatu yang ketika dilakukan terdapat faidah didalamnya dan ketika ditinggalkan dapat mereduksi komposisi bahaya yang dikandungnya. Maka penisbahan kepada urgensitas seorang imam tidaklah bathil sekiranya terdapat manfaat yang overwhelms dan menahan liabilitas maupun ke mudharat an.

Dalam kitabnya al-ihya, Al-ghazali menyebutkan bahwa para sufi melakukan pendekatan kedalam terma jiwa dengan nilai-nilai asketisme. Menurutnya, para ahli tashawwuf -secara makro- berpendapat bahwa sifat keburukan telah bersemayam di jiwa pada asalnya. Karena itu dibutuhkan mujahadah an-nafs untuk mengontrol stabilitas jiwa -pada tahap awal- guna mencapai tingkat pengetahuan yang tinggi dan musyahadah. Sedangkan Ibnu sina membedakan antara ‘aql dan nafs dalam beberapa kitab yang beliau tulis. Ia berkata “ jiwa dinamakan sebagai jiwa karena entitasnya masih terhubung dengan tubuh. Akan tetapi ketika telah terpisah, maka tidak lagi bernama jiwa, melaikan akal. Mengenai hal ini, Beberapa filosof berpandangan, bahwa akal merupakan realitas termulia, karena inti daripada al-‘aql al-muthlaq adalah Allah.

Senada dengan al-farabi, ibnu sina mengatakan bahwa ilmu dari al-‘aql al-fa’al (jibril) memancar didalam hati seorang Rasul untuk kemudian wahyu tersebut disampaikan dengan bahasa dan cara mereka sendiri. Memang, hal ini bertentangan dengan akidah ahlu sunnah dan beraliran sama dengan syi’ah bathiniyyah, akan tetapi adalah sebuah fakta ilmiah bahwasannya ibnu sina sukses merumuskan sebuah penjelasan rasional atas Heterogenitas Risalah Kenabian, bahwa perbedaan linguistik yang diposesikan oleh para utusan tuhan tersebut, tidaklah berarti perbedaan sumber.

D. Descartes, A Ghazalian.

Rene Descartes (1596-1650 M), seorang pelopor aliran rasionalisme modern, Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini (asy-syak al-manhaji), maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Namun demikian dalam gerak kesangsian yang metodis ini,  ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan imajinasi, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu. ” Jika aku menyangsikan sesuatu pada suatu waktu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan keberadaanya. Dengan kata lain, kesangsian itu langsung menyatakan adanya wujudku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir (menyadari/menyangsikan) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Menurut descartes, untuk mengetahui kebenaran secara pasti, seseorang haruslah mengerti sebuah objek dengan “jelas, dan terpilah-pilah”, “clearly and distinctly”, “clara et distincta”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Hal ini menjadi sebuah kode bagi Descartes dalam menentukan kebenaran. Ternyata dalam hal ini Al-Ghazali telah mendahului Descartes beberapa ratus tahun dalam merumuskan teori ini. Menurut al-ghazali, manusia tidak dapat menyangsikan bahwa pada saat itu ia sedang sangsi. Hal ini juga menyerupai salah satu marhalah keilmuan Abu Hamid dimana beliau menyangsikan dan memilah-milah dari apa yang telah terkumpul pada dirinya (Marhalah Al-Tasykik). Dalam kaidah fikih sendiri dikenal dengan istilah Al-Hukmu ‘ala al-syai’ far’un ‘an tashawwurihi.  Disini dapat dipahami bersama, bahwa jika secara sistematis kita menyangsikan dan kemudian meneliti segala sesuatu mengenai dunia dan mengenai kita sendiri yang, menurut perkirakan kita, kita ketahui, kita berharap memperoleh sesuatu yang akan mustahil untuk diragukan. Ini kemudian bisa berfungsi sebagai titik pijak bagi pembangunan sistem filosofis positif. Dan hal ini pun memberikan konstribusi tersendiri kepada tehnik ber-sufi al-Ghazali. Karena barang siapa yang tidak bisa menyangsikan bahwa dirinya sedang sangsi, belum mencapai al-ma’rifah al-haqqah dan realitas kebenaran muthlaq secara hakiki dimana pengakuan ketidaksempurnaan seorang hamba adalah keniscayaan kewujudan Sang Maha Sempurna.

Disini dapat difahami dengan sangat jelas, bahwa Descartes telah membaca terlebih dahulu terjemahan al-munqidz min adz-dzalal sebelum merumuskan teori ini. Descartes berhasil menjelaskan secara intensif bentuk pemikiran al-Ghazali kedalam ranah pemikiran eropa rasionalis. Di “ meditasi pertama” dari enam meditasi yang dipaparkan didalam bukunya meditation of first philoshopy, Descartes memulai pencariannya dengan memanfaatkan pengalaman terkelabui yang sedikit banyak universal tersebut, dengan menaruh kesangsian guna mengasah keandalan dan mengukur limitasi dari jangkauan indra kita. Memang, hal ini seringkali menimbulkan pandangan sebagai ‘ketumpulan indra’ dan menihilkan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran melalui indera empiris. Dalam hal ini ini ada titik yang menyebabkan Descartes agak bertolak belakang dengan Aristotelian dalam realisme. Sebab sesungguhnya realisme ini mengiyakan entitas yang dihasilkan melalui parameter indrawi  manusia. Akan tetapi, metode yang ditawarkan al-Ghazali dan Descartes sangat rasional untuk mengungkap realita keberadaan yang maha sempurna.

Dalam membuktikan realita eksistensi Tuhan , Descartes memulainya dengan menyusun suatu argumentasi yang kini dikenal sebagai “argumen ontologis” tentang eksistensi Tuhan (yakni argumentasi yang hanya menggunakan pemahaman yang jelas dan tepat mengenai konsep “Tuhan”). Bukti yang ia kemukakan semacam ini:  “Manusia di dalam dirinya mempunyai idea “kesempurnaan”; setiap orang tahu bahwa “ego” yang ia percaya keberadaannya (yaitu benaknya sendiri) bukanlah Yang-Berada sempurna; sekalipun begitu, Yang-Berada sempurna ini pasti eksis pada aktualnya; yakni pada saat itu, karena kalau tidak, eksistensinya akan kurang sempurna. Artinya, jika konsep kita tentang Sang Maha sempurna  itu mengacu pada suatu Yang-Berwujud yang pada kenyataannya tidak eksis, maka Yang-Berwujud ini tidak akan sesempurna Yang-Berwujud sempurna yang benar–benar eksis. Lalu Descartes menyatakan bahwa, karena dengan jalan itu kita bisa yakin bahwa suatu Yang-Berada sempurna (Tuhan) itu eksis, dan karena Yang-Berwujud semacam ini pasti baik supaya sempurna, kita pun bisa yakin bahwa Yang-berwujud semacam ini tidak akan mengelabui kita. Dan hal tersebut diformulasikan oleh deskartes dengan argumentasi bahwasannya Tuhan adalah fitrah manusia, dimana manusia pasti membutuhkan Wujud Yang Maha Sempurna, lebih sempurna dari dirinya.  Dari sini dapat diketahui, bahwa hasil pemikiran filsafat dan sufisme al-Ghazali masuk kedalam pori-pori rasionalitas Descartes. Maka harumnya nama Descartes hingga saat ini adalah sebuah keniscayaan estafet salah satu dari pemikiran al-Ghazali. “no human being is perfect, so the perfect Being is not the “I” of whose existence I am certain”.

Epilog

Bertualang di dalam alam pemikiran sungguh sangat mengasyikkan dan menggelitik. Al-ghazali adalah sebuah sosok yang pantas diperhitungkan dalam kancah pemikiran tingkat dunia. arbitrase yang dilakukan oleh al-Ghazali bagi beberapa pemikiran filsafati, benar-benar menjadikannya sebagai hot gossip bagi para pemikir di berbagai belahan planet ini pada zaman silam. Pemikiran dan analisanya atas beberapa epistema, bertahan mulai dari sejarah filsafat skolastik bahkan hingga filsafat modern. Regardless, Jika saja beliau tidak melakukan tahkim dalam filsafat, maka sesungguhnya kemuliaan adalah anggukan universal bagi Abu Hamid al-Ghazali. Wallahu a’lam wa ahkam.

NB: This was written by me on 2008th, so it is normal that now i have alot of things to add or correct about my writing. Insha Allah if it’s His Will ill do it sometimes tho maybe won’t be so soon. Regards🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s