Bersikap bijaksana atas Ilmu.

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Pada suatu hari Imam Al-Auza’i ;Faqih Syam yang sezaman dengan Imam Abu Hanifah; berjumpa dengan Abdullah Ibn Al-Mubarak rahimahumullah.Lantas Al-Auza’i bertanya, “Siapakah gerangan yang sering disebut-sebut Abu Hanifah yang tinggal di kota Kufah tersebut?” Namun Ibnu Al-Mubarak tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, melainkan beliau mengajak Imam Al-Auza’i untuk bertukar pandang mengenai permasalahan fiqih, melainkan ia mengajaknya berdebat dan menyampaikan fatwa yang mengagumkan.

Lantas Al-Auza’i kembali bertanya, “Siapakah gerangan yang menyampaikan fatwa ini? Lalu dijawab, “Ia adalah orang yang bisa engkau temui di negara Irak, ia adalah seorang yang sangat ‘Alim dan bijaksana, maka belajarlah kepadanya.” Kemudian Ibnu Al-Mubarak memberitahukan bahwasannya yang dimaksud adalah Imam Abu Hanifah An-Nu’man.

Dengan Izin Allah swt Al-Auza’i dapat berjumpa dengan Imam Abu Hanifah dan mengaji ilmu fikih Imam Abu hanifah dan begitu juga ilmu fikihnya. Al-Auza’i pun berkata, “Aku dengki kepada seseorang karena banyak ilmunya dan keren cerdas serta normal akalnya. Aku meminta ampun kepada Allah swt karena telah terang-terangan melakukan kesalahan. Aku akan mengikuti orang itu (Imam Abu Hanifah) karena beliau adalah seorang yang sangat Alim dari apa yang aku ketahui.”

Begitulah sedikit cerita dari ke’aliman imam abu hanifah, walaupun ada yang mengkritik beliau menyoal beberapa perkataan dan syi’ir bahasa arab, menisbatkan beliau anti-hadist, semua hanya karena buruk sangka dan rasa hasud kepada beliau. Justru banyak sekali pernyataan ulama semasanya yang menolak hal tersebut, sebut saja An-Nadhir bin sumail, Khalaf bin ayyub, Al-Hakam bin Abdillah yang bahkan mengatakan bahwa Abu Hanifah adalah seorang yang lebih ‘Alim menyoal Hadist dari Sufyan Al-Tsaury. Justru kritik sanad hadist adalah yang pertama kali dicetuskan oleh Imam Abu Hanifah, melihat Irak dengan kondisi ideologi yang bahkan disebut sebagai ‘Pabrik Hadist’. Yusuf Bin Asbat berkata bahwa Imam Abu Hanifah Menolak 400 hadist yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Dr. Ahmad Al-Syurbashi lebih lanjut menisbatkan Metode Imam Ahmad dalam kritik sanad dan autorisasinya adalah perpanjangan tangan dari Imam Abu Hanifah.

Dalam nasihat kehidupan Sang Imampun pasti kita bisa melihat bahwasannya hal-hal yang disampaikan beliau tidak lain adalah Hadist-hadist ataupun kultivasi (Istinbat) dari hadist Rasulullah saw. Imam Asy-syafi’i bahkan pernah berujar, bahwa Bapak dari ilmu fiqih adalah Abu Hanifah, dan yang lain hanyalah anak-anaknya saja.Dalam Ilmu kalam pun beliau adalah punggawa kalam no. 1 dalam menghalau paham-paham sempalan seperti khawarij, murji’ah, qadariyah, dan jabariyah.

Diatas orang yang ‘Alim mestilah ada yang lebih ‘Alim. Karena segala sesuatu sejatinya hanyalah Milik Sang ‘Alim yang Hakiki. Allah swt.

Semoga Allah swt memberikan barakah kepada kita dengan ilmu dan akhlak beliau dan manfaatnya dunia akhirat. Amin.

Rahimakallah ya Imam.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s