Predestinatio : الجبرية (Part one)

Oleh: Geys Abdurrahman Assegaf Lc.

Dalam hidup ini kita tidak pernah bisa lepas dari apa yang disebut sebagai kesempatan. Antara kekanan dan kekiri seorang pengemudi harus menentukan akan berbelok ke mana guna mencapai tujuan. Tak jarang timbul pertanyaan, lantas apakah kehendak tersebut adalah mutlak berasal sang pengemudi (etiologi), ataukah ia hanyalah driven force dari sebuah entitas yang Maha Segalanya secara mutlak? Ataukah manusia memang memiiki anugrah kesanggupan tersebut tanpa perlu mempertentangkan kuasa Tuhan atasnya? Alangkah mengasyikkannya jika kita mencoba merunut pembahasan mengenai gerak dan takdir dari sekte-sekte yang terkait dalam pembahasan ini. Kali ini penulis akan mengetengahkan Jabariyah, sebuah sekte dalam aliran teologi yang dikenal juga dengan sebutan fatalisme atau determinisme. Semoga menghibur. :)

Secara etimologi,  Jabariyah berasal dari kata ‘jabara’, yang berarti terpaksa. Atau mengandung makna ‘Alzamahu bi fi’lihi’, yakni diwajibkan atau terpaksa. Dalam terminologi para teolog islam, Jabariyah (Predestinatio/fatalism) adalah sebuah aliran atau paham dalam ilmu kalam yang berpendapat bahwasannya manusia dalam segala perbuatannya adalah dipaksa (Majbur). Artinya, perbuatan manusia pada hakikatnya hanyalah perbuatan Allah swt semata, sebagaimana dinyatakan Muhammad Abdul Karim Al-Syihrastani dalam Al-milalnya: (نفي الفعل حقيقة عن العبد وإضافته إلي الربّ تعالي). Maka dalam pengertian ini dapat dipahami, bahwa apapun yang dilakukan manusia adalah terpaksa, dan tidak ada posisi baginya untuk memilih (Ikhtiyar). Manusia digambarkan dalam keadaan yang selalu terpaksa, ia tidak punya kebebasan dalam berkehendak dan menentukan perbuatannya secara mutlak. Apa yang dibuat oleh manusia tidak lebih dari bulu yang ditiup angin, kemana arah angin meniupnya maka kesana ia akan pergi.

Paham Jabariyah lahir di Khurasan, Iran pada paruh pertama abad ke-2 H/ke-8 M yang dipelopori oleh Ja’ad bin Dirham (w. 124), seseorang yang sering disebut seagai orang pertama yang menyatakan kemakhlukan Al-qur’an dan mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan. Adapun latar belakang kelahirannya, maka tidak bisa dipisahkan dari kenyataan georgrafis, sosiologis, dan historis bangsa arab yang hidup ditanah padang pasir yang tandus. Hal ini sangat mempengaruhi pola fikir dan tingkat kebudayaan mereka. Kebudayaan mereka sangat sederhana dan banyak bergantung kepada kehendak alam. Hal ini secara tidak langsung akan menimbulkan perasaan lemah yang berlebihan dan tidak berdaya menghadapi tantangan yang demikian keras. Hal inilah yang justru akhirnya membawa mereka kepada sikap Fatalis. Dalam konteks yang berbeda, Ja’ad dituduh sebagai Mulhid dan juga Zindiq. Ia mati terbunuh pada masa akhir pemerinthaan Bani Umayyah. Dan dari yang digadang-gadang sebagai pembunuhnya adalah Salim bin Ahwaz Al-Mazini.

Syaikh Muhammad Abu Zahrah rahimahullah berpandangan bahwa paham ini muncul saat kepemimpinan dinasti Umayyah. Ketika itu para ulama sudah mulai membicarakan masalah qadar serta batas apa yang ada didalam kuasa manusia berhadapan dengan kuasa Tuhan. Berangkat dari pembicaraan ini, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti, sejauhmana manusia bergantung kepada kekuasaan Tuhan dan kehendak-Nya yang absolut? Lantas apakah manusia memiliki peranan dalam mengatur serta kebebasan gerak-gerik hidupnya, ataukah ia tunduk secara mutlak terhadap Keinginan Tuhan? Para teolog dan historian islam telah mencoba meneliti dan mengkaji sejauh mengenai siapakah yang pertama kali membawa paham Jabariyah tersebut. Umumnya mereka berpendapat bahwasannya yang membawa paham ini adalah orang Yahudi. Namun syaikh Abu Zahrah berpandangan bahwasannya paham Yahudi bukanlah satu-satunya yang memengaruhi munculnya sekte ini, tapi disana ada aliran Manu dan Zoroaster (yang dianut oleh orang-orang Persia saat itu) yang ikut berperan dalam pembentukannya.

Adapun orang islam yang pertama kali memperkenalkan paham ini menurut para sejarawan dan teolog muslim adalah Ja’ad bin Dirham. Paham ini kemudian diterima dan disebarluaskan oleh Jahm bin shafwan. Tokoh yang disebut terakhir inilah yang dipandang oleh para sejarawan dan ahli kalam, sehingga tidak jarang pula aliran ini dinisbatkan kepadanya dengan sebutan aliran Jahmiyah. Penting untuk diketahui, bahwa Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini sama dengan Jahm yang mendirikan golongan Jahmiyah dalam kalangan Murji’ah, yang mana Jahm memegang posisi sebagai sekretaris dari Syuraih bin Al-Haris, dimana ia turut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh pada tahun 131 H. Paham Jabariyah berkembang pesat pada amasa kekuasaan Bani Umayyah (661-750 M).

Dukungan Bani Umayyah kepada Jabariyah didasarkan kepada pengabsahan teologis yang diberikan kaum Jabariyah atas kedaulatan Bani Umayyah. Menurut mereka, kekhilafahan Bani Umayyah adalah takdir Ilahi yang wajib diterima setiap orang, meskipun dapat kita ketahui bahwasannya kekuasaan ini diambil dengan cara yang kontroversial dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Namun bagi Jabariyah semua itu merupakan ketentuan Allah swt dan setiap muslim tidak kuasa menghindarinya. Yang kedua, Jabariyah juga memberikan legitimasi atas sistem Monarch yang dilakukan oleh Bani Umayyah, dimana sebelumnya pada masa pemerintahan Khulafa’ Ar-Rasyidin seorang Khalifah dipilih berdasarkan musyawarah yang dilakukan oleh para pembesar sahabat yang dipercaya oleh konstituen untuk mengampu musyawarah dalam memilih pemimpin Ummat Islam pada saat itu. Asy-Syahrastani dalam karyanya Al-Milal membedakan paham jabariyah menjadi dua bentuk, yaitu Jabariyah Ekstrim dan Jabaryah Moderat. Dalam paham Jabariyah Ekstrim, manusia dipandang fatalis, yakni tidak mempunyai Qadrat, Iradah dan Ikhtiyar dalam hidupnya sama sekali. Paham ini adalah yang dibawa oleh Jahm bin Shafwan. Adapun Jabariyah Moderat, aliran ini masih mengakui adanya peranan manusia dalam perbuatannya. Ia tidak seperti benda jamad yang nihil keinginan, melainkan manusia memiliki peran aktif dalam mewujudkannya. Ajaran yang moderat ini dibawa oleh Dirar bin Amr dan Husain bin Muhammad Al-Najjar.

Perlu diketahui, bahwa Fatalisme secara Universal terbagi menjadi dua kelompok; Naturalis dan Teologis. Yang pertama bahwa paksaan yang terjadi adalah kodrat alam. Seluruh Universum (Jagad Raya) yang terdiri dari Makrokosmos dan Mikrokosmos merupakan satu kesatuan yang sama yang terjalin erat satu sama lain (Monistis). Tidak ada perbuatan manusia yang berdiri sendiri atau orisinal. Yang kedua adalah Teologis. Ini yang lebih dikenal dengan istilah Predestinatio yakni bahwasannya segala nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu oleh Tuhan. Penulis sendiri berasumsi bahwasannya Yang dimaksud dengan Naturalis disini adalah aliran Manuwiyah yang polytheist dan juga sangat mirip dengen aliran Pantheisme. Dimana Tuhan adalah substansi alam dan bukan sebuah dzat. Alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah Alam. Pada aliran ini muatan pemikiran agama Hindu juga dapat dirasakan sangat kental sekali dalam mengarakteristikkan dirinya, yang dimana dalam aliran agama Kristen dipopulerkan oleh Johannes Scottus Eriguina. Perbedaan antara Fatalisme Naturalis dan Fatalisme Teologis ada pada letak kodrat itu sendiri. Bagi Naturalis kodrat absolut ada pada Alam, sedang teologis ia terletak pada Tuhan.

Lebih Lanjut Asy-Syahrastani mengklasifikasikan perkembangan golongan Jabariyah dalam islam menjadi 3 kelompok, Jahmiyah, Najjariyah, dan Dhirariyah.

1. Jahmiyah adalah sebutan bagi pengikut Jahm bin Shafwan, dengan ajarannya yang terpenting ditermakan sebagai Al-Bari, yaitu Allah swt Tuhan Maha Pencipta Lagi Maha Tinggi. Disini Allah swt tidak boleh disifatkan seperti sifat para Makhluknya, seperti sifat Hidup (Hayy) dan mengetahui (‘Alim), padahal penyerupaan itu tidak mungkin terjadi.

2. Najjariyyah. Sekte ini dipimpin oleh Al-husain bin Muhammad An-Najjar (W 230 H). Ajaran utamanya adalah bahwasannya Allah swt memiliki kehendak atas diri-Nya sendiri, sebagaimana Ia mengetahui diri-Nya. Tuhan menghendaki kebaikan dan keburukan, dan juga manfaat serta mudharat.

3. Dhirariyah. Sekte ini dipimpin oleh Dhirar bin Amr dan Hafs Al-fard. Keduanya sepakat dalam meniadakan sifat-sifat Tuhan namun pada saat yang sama keduanya juga berpendirian bahwasannya Allah swt Maha Mengetahui dan juga Maha Kuasa. Dalam pengertian bahwa Allah tidaklah jahil ataupun ‘ajiz.

Jabariyah memiliki sisi ekstrim dan moderat. Insya Allah penulis akan coba jelaskan lebih lanjut pada tulisan berikutnya, beserta pendapat Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dalam menyikapi paham aliran ini. Wallahu a’lam wa ilaihi al-tuklan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s